Minggu, 27 Juli 2014

Serabi Pukul Enam Pagi

Posted By Ainoire di 03.43

Rambutnya putih, berwarna keperak-perakan juga ada yang berwarna keemasan; semir rambut hitam yang perlahan memudar. Kulitnya yang terbakar matahari mulai mengkerut di mana-mana termakan usia. Tingginya tak sampai seratus lima puluh sentimeter kurasa, meski aku tak pernah mendapatinya berdiri. Tulangnya berlomba-lomba memperlihatkan keberadaannya. Sikunya sangat tajam, matanya sayu, senyumnya tampak sangat tulus meski kutau ada berbagai luka di baliknya. Setiap hari, ia mengisi wadah-wadah kecil dari tanah liat dengan adonan tepung dicampur gula jawa dan kelapa. Abu dari arang yang beterbangan sesekali membuat dia terbatuk-batuk. Aku memanggilnya Nenek Serabi.

Di trotoar perempatan jalan dekat alun-alun, ia selalu duduk di situ membuat serabi. Kata ibuku, Nenek Serabi memang selalu duduk di situ, dari dulu sejak aku belum tinggal di kota ini; aku pindah dari Jakarta saat kelas tiga Sekolah Dasar. Ibuku bercerita, Nenek Serabi sudah duduk di situ sejak rambutnya masih lebat dan legam, sejak kulitnya masih kencang, sejak dia masih berdiri tegap, sejak matanya masih berbinar-binar, dan sejak ia masih memliki senyum yang murni kebahagiaan. Pukul enam pagi.

Aku tidak pernah membeli serabi miliknya, kecuali saat bersama ibu. Padahal, setiap minggu aku dan teman-teman selalu mampir ke alun-alun untuk sekadar mencari keringat, atau untuk memanjakan lidah dan perut.  Aku melewatinya begitu saja, meski dalam hati kecilku tersurat perasaan iba luar biasa kepada Nenek Serabi. Kadang, ada segerombol anak kecil yang nakal ingin mengambil serabi buatan nenek. Tapi mereka lalu kabur, karena Nenek Serabi marah-marah dan tentu saja para pembelinya ikut memarahi anak-anak nakal itu. Dan entah mengapa yang selalu aku dengar dari mulut Nenek Serabi jika anak-anak nakal itu kembali  adalah “Jangan jadi maling! Nanti kalian kena api! Hangus!”

Minggu pagi, seperti biasa aku datang ke alun-alun. Yang tidak biasa adalah, aku pergi sendiri. Tanpa ibu, tanpa teman. Aku sengaja datang pagi-pagi sebelum pukul enam agar aku bisa melihat Nenek Serabi. Entah aku yang kesiangan, atau dia yang datang terlalu pagi. Dia sudah ada di sana. Mengipas-ipas arang agar merahnya semakin membara.

“Tumben, Nek, sudah di sini.”

Sepertinya perkataanku membuat Nenek Serabi terhenyak kaget dari lamunannya. Untung saja Nenek Serabi tidak menderita penyakit jantung. Jika itu sampai terjadi, entah apa yang harus kulakukan. Yang pasti, aku akan sangat berdosa.

“I…iya. Memang berangkat lebih pagi. Soalnya tadi nyari daun pisang dulu. Takut kesiangan. Ini, Nak, mau serabi?”

Spontan aku langsung merogoh-rogoh saku celana.

“Ini buat kamu, Nak. Gratis.”

Aku duduk di samping Nenek Serabi. Percakapan antara aku dan nenek lebih cepat masuk ke kepala dari pada serabi nenek masuk ke dalam perut. Basa-basi awal kita memang sangat membosankan. Aku sampai hampir menyerah memasang muka gembira. Hingga akhirnya ada yang menarik perhatianku pada cerita nenek. Nenek sempat menyaksikan kekejaman luar biasa, kekejaman tanpa rasa kemanusiaan. Tapi makin hari, hal itu berubah menjadi hal yang biasa saja, layaknya sebuah ritual adat, atau santap pagi seorang anak yang akan berangkat sekolah.

Nenek menyaksikan bara api bercampur pada tubuh manusia yang sebelumnya sudah dikeroyok. Warga mengamuk pada seorang maling dan memukulinya dengan apa saja kecuali dengan tangan dan perasaan. Lalu maling malang itu disirami dengan bensin dan dilempari puntung rokok.

“Setiap minggu paling tidak ada tiga maling yang jadi maling panggang, Nak. Nenek dulu masih kecil. Jualan serabi juga, nemenin ibu. Tapi tidak di sini. Dulu di kota lain, dekat stasiun kereta.”

Bangkainya dibiarkan saja terbakar. Warga hanya menatap lalu meninggalkannya. Hanya Nenek Serabi dan ibunya yang menyaksikan sampai api padam. Ibu Nenek Serabi selalu menutup mata Nenek Serabi ketika kejadian di luar kemanusiaan itu berlangsung. Namun percuma saja, apinya terlalu merah, hingga tentu saja terlihat jelas pada mata hitam milik Nenek Serabi. Toh Ibu Nenek Serabi sering menyuruh Nenek Serabi untuk menutupi mayat-mayat hangus dengan daun pisang.

Aku bergidik ngeri, sambil menelan gigitan serabi yang terakhir.

“Tidak usah takut begitu, Nak. Itu kan zaman dulu. Kejahatan seperti itu dibiarkan saja meski banyak orang-orang yang membicarakan di belakang. Tapi siapa yang berani melawan? Kalo sekarang kan gampang. Tinggal lapor saja ke polisi.”

Aku membalas dengan senyum yang akhirnya dibuyarkan oleh anak-anak nakal yang sudah langganan mengganggu Nenek Serabi.

“Jangan jadi maling! Nanti kalian kena api! Hangus!”, spontan omelan itu keluar dari mulutku. Anak-anak itu lari terbirit-birit.

Nenek Serabi sempat heran melihat perilakuku barusan, namun akhirnya dia tertawa terbahak-bahak. Bahunya naik turun, matanya sampai setengah terpejam, dan dia memamerkan gusi yang tak ada giginya lagi. Aku hanya ikut tertawa canggung.

Langit yang ungu sudah semakin menjadi biru, dan pembeli semakin ramai berdatangan. Aku beranjak, berjalan meninggalkan Nenek Serabi. Dari balik punggungku, terdengar riuh suara-suara manusia yang semakin lama semakin memudar. Hingga saat aku berbalik, aku melihat sebuah siluet manusia, dikelilingi merah api membara.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Aksara dari Pena Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos