Sejak terakhir kalinya, aku
menunggu pesan darimu lagi. Percakapan malam itu terasa begitu singkat namun
sangat melekat. Butuh berapa lama? Tak akan pernah ada waktu yang berani
bertaruh, selain selama-lamanya.
Ponselku tergeletak bagai tak
bertuan. Bukannya aku tak suka bermain ponsel. Aku hanya sedang menghayati sepi
dan sendiri.
Padahal aku sedang tidak
berharap, siapa sangka ada pesan darimu. Tengah malam kurang satu jam lagi, dan
seharusnya kau sudah bermimpi. Kau bukan tipe lelaki pecinta malam dan dini
hari. Kau adalah lelaki yang tidur lebih awal, bermimpi lebih awal, dan bangun
lebih awal.
Aku merasa sangat beruntung
mendapat pesan darimu. Meski pikiran-pikiran negatif terus saja berseliweran di
kepalaku. Mungkin kau hanya tidak tega melihatku kesepian. Atau kau hanya
sekadar mencari kegiatan mengisi waktu luangmu. Atau bahkan kau juga kesepian;
ditinggal lelap wanitamu.
Kuakui, setiap kali aku selalu
berniat mengirimkanmu pesan. Aku takut kalah dan membuatmu bosan untuk selalu
memulai percakapan lebih dulu. Namun apadaya, setiap aku berniat
mengirimkannya, aku teringat wanitamu lagi. Aku takut merecoki kalian berdua
yang sedang kasmaran.
Aku suka caramu menghidupkan
percakapan. Dan sekali lagi, aku takut membuatmu bosan. Entah kenapa, setiap kali
pesan itu darimu, aku serasa lumpuh. Aku serasa mati rasa dan seketika menjadi
orang paling bodoh sedunia. Aku selalu linglung dan bingung untuk mencari
kata-kata. Aku selalu salah. Di sisi lain, aku tak mau percakapan berharga ini
terlalu cepat selesai.
Percakapan malam itu terasa
begitu singkat, namun sangat melekat. Aku tak butuh waktu lama-lama. Hanya
selamanya.


0 komentar:
Posting Komentar