Aku bertanya-tanya mengapa ada
dua bayangan di belakangku. Aku ingat
betul hanya ada satu bola lampu di atasku. Aku pun yakin aku sendirian di
ruangan ini, kecuali bersama cangkir kopi dan biskuit favoritku. Bahkan, aku
telah memutar kepalaku dan memaksa kedua mataku menelusuri setiap sudut
ruangan. Aku berani bersumpah tak ada manusia lagi selain diriku. Namun,
bayangan itu tetap saja masih menjadi dua dan jelas-jelas dari bentuknya, itu
bayangan milikku.
Aku tidak merasa takut sedikitpun. Bahkan, jika itu benar adalah
hantu, pasti aku akan tertawa terbahak-bahak. Aku berniat keluar dari
ruangan itu, siapa tahu bayangan itu bisa menghilang. Namun aku baru ingat
bahwa di luar ada lebih banyak cahaya lampu yang justru akan membuat bayangan
menjadi semakin banyak. Lalu terpikir olehku untuk mematikan bola lampu di atasku.
Namun, sebelum sempat beranjak, terlintas di kepalaku: Bagaimana jika aku
matikan lampu dan saat kuhidupkan kembali, bayangan itu telah hilang?
Kupikir memiliki dua bayangan
tidak terlalu buruk. Meski aku tidak tahu mana bayangan asliku, dan milik siapa
yang satunya. Kabar baiknya adalah aku memiliki cadangan teman, kalau-kalau
satu bayanganku pergi. Sebenarnya aku memang merasa kesepian. Di sisi lain, aku
memang tidak suka keramaian. Jadi serba salah jika aku menyendiri dan selalu
merasa sepi, namun aku pun tidak mau bergabung pada hiruk pikuk kehidupan yang
membuat kepalaku ingin pecah.
Aku tatap jam tanganku yang
selalu menunjukkan pukul sebelas. Meski sebenarnya aku tidak terlalu suka angka
sebelas; angka yang mengingatkanku pada perpisahan kita. Bukan, bukan
perpisahan kita. Lebih tepatnya adalah tentang saat di mana kamu memutuskan
untuk pergi jauh dari hidupku. Aku menyesal menatap jam tanganku, namun aku tak
pernah ingin melepasnya dari tanganku, seperti aku tidak pernah melepaskanmu
dari kepalaku. Dan sekarang yang tak ingin kulepas telah bertambah satu, yaitu
bayanganku. Lalu kuputuskan untuk menatap keluar jendela untuk mengira-ira sudah
selarut apa sekarang.
Aku terkejut melihat lelaki dari
jendela memiliki bayangan yang sama jumlahnya denganku. Di sisi lain aku juga
kecewa. Kupikir hanya aku yang memiliki dua bayangan. Malam ini aku menyesali
dua perkara. Pertama, aku melihat jam tanganku yang jelas-jelas selalu menunjuk
angka sebelas. Kedua, aku beranjak menatap ke jendela, sehingga mengetahui ada
orang yang juga memiliki apa yang aku miliki. Sekarang, aku tak tahu apa yang
harus aku lakukan lebih dulu. Mematikan lampu agar bayanganku hilang atau
menghampiri lelaki itu, menanyakan bayangan miliknya. Akhirnya, kuputuskan
untuk menanyai bayangan milikku saja.
Biarlah aku seperti orang gila
yang menanyai hal yang tak hidup daripada aku menjadi benar-benar gila karena
tidak melakukan apapun. Namun, sebelum sempat aku membuka mulutku, bayangan itu
lepas dari ujung kakiku dan perlahan menari-nari menjauh. Akhirnya, yang
terlontar dari mulutku adalah, “Tolong buatkan aku puisi tentang cahaya lampu,
karena aku tak bisa menebak mana sajak, sinar, dan bayanganmu.” Aku tak yakin
bayangan itu mendengarkanku sampai selesai atau tidak. Yang jelas, sekarang ia
telah menempel di ujung kaki lelaki yang aku lihat dari jendela dan menari-nari
bersamanya.
Di bawah bola lampu, sendirian.


1 komentar:
"Biarlah aku seperti orang gila yang menanyai hal yang tak hidup daripada aku menjadi benar-benar gila karena tidak melakukan apapun."
Dat is cool!!! (y)...
Posting Komentar