Kamis, 19 Februari 2015

Bayangan Menari

Posted By Ainoire di 02.00


Aku bertanya-tanya mengapa ada dua bayangan di  belakangku. Aku ingat betul hanya ada satu bola lampu di atasku. Aku pun yakin aku sendirian di ruangan ini, kecuali bersama cangkir kopi dan biskuit favoritku. Bahkan, aku telah memutar kepalaku dan memaksa kedua mataku menelusuri setiap sudut ruangan. Aku berani bersumpah tak ada manusia lagi selain diriku. Namun, bayangan itu tetap saja masih menjadi dua dan jelas-jelas dari bentuknya, itu bayangan milikku.

Aku tidak merasa takut sedikitpun. Bahkan, jika itu benar adalah  hantu, pasti aku akan tertawa terbahak-bahak. Aku berniat keluar dari ruangan itu, siapa tahu bayangan itu bisa menghilang. Namun aku baru ingat bahwa di luar ada lebih banyak cahaya lampu yang justru akan membuat bayangan menjadi semakin banyak. Lalu terpikir olehku untuk mematikan bola lampu di atasku. Namun, sebelum sempat beranjak, terlintas di kepalaku: Bagaimana jika aku matikan lampu dan saat kuhidupkan kembali, bayangan itu telah hilang?

Kupikir memiliki dua bayangan tidak terlalu buruk. Meski aku tidak tahu mana bayangan asliku, dan milik siapa yang satunya. Kabar baiknya adalah aku memiliki cadangan teman, kalau-kalau satu bayanganku pergi. Sebenarnya aku memang merasa kesepian. Di sisi lain, aku memang tidak suka keramaian. Jadi serba salah jika aku menyendiri dan selalu merasa sepi, namun aku pun tidak mau bergabung pada hiruk pikuk kehidupan yang membuat kepalaku ingin pecah.

Aku tatap jam tanganku yang selalu menunjukkan pukul sebelas. Meski sebenarnya aku tidak terlalu suka angka sebelas; angka yang mengingatkanku pada perpisahan kita. Bukan, bukan perpisahan kita. Lebih tepatnya adalah tentang saat di mana kamu memutuskan untuk pergi jauh dari hidupku. Aku menyesal menatap jam tanganku, namun aku tak pernah ingin melepasnya dari tanganku, seperti aku tidak pernah melepaskanmu dari kepalaku. Dan sekarang yang tak ingin kulepas telah bertambah satu, yaitu bayanganku. Lalu kuputuskan untuk menatap keluar jendela untuk mengira-ira sudah selarut apa sekarang.

Aku terkejut melihat lelaki dari jendela memiliki bayangan yang sama jumlahnya denganku. Di sisi lain aku juga kecewa. Kupikir hanya aku yang memiliki dua bayangan. Malam ini aku menyesali dua perkara. Pertama, aku melihat jam tanganku yang jelas-jelas selalu menunjuk angka sebelas. Kedua, aku beranjak menatap ke jendela, sehingga mengetahui ada orang yang juga memiliki apa yang aku miliki. Sekarang, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan lebih dulu. Mematikan lampu agar bayanganku hilang atau menghampiri lelaki itu, menanyakan bayangan miliknya. Akhirnya, kuputuskan untuk menanyai bayangan milikku saja.

Biarlah aku seperti orang gila yang menanyai hal yang tak hidup daripada aku menjadi benar-benar gila karena tidak melakukan apapun. Namun, sebelum sempat aku membuka mulutku, bayangan itu lepas dari ujung kakiku dan perlahan menari-nari menjauh. Akhirnya, yang terlontar dari mulutku adalah, “Tolong buatkan aku puisi tentang cahaya lampu, karena aku tak bisa menebak mana sajak, sinar, dan bayanganmu.” Aku tak yakin bayangan itu mendengarkanku sampai selesai atau tidak. Yang jelas, sekarang ia telah menempel di ujung kaki lelaki yang aku lihat dari jendela dan menari-nari bersamanya.

Di bawah bola lampu, sendirian.

1 komentar:

Unknown on 22 Maret 2015 pukul 22.55 mengatakan...

"Biarlah aku seperti orang gila yang menanyai hal yang tak hidup daripada aku menjadi benar-benar gila karena tidak melakukan apapun."

Dat is cool!!! (y)...

Posting Komentar

 

Aksara dari Pena Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos