Kamis, 24 Juli 2014

Berjalan di Dua Ratus Empat Puluh

Posted By Ainoire di 09.29

Siapa yang menyangka aku sudah berjalan sejauh ini. Aku tidak suka berlari. Semua orang tau, berjalan perlu waktu yang lebih lama untuk sampai tujuan. Dan aku lebih menyukainya. Setiap angka yang aku lewati akan terasa lebih lama, karena aku tidak ingin waktu berlalu cepat dan segera menghilangkan adamu di sisiku. Ya, satu, dua, tiga, hingga dua ratus empat puluh.

Hatimu bagai samudera. Bahkan hingga hari ke dua ratus empat puluh ini, aku belum usai menyelaminya. Padahal aku sudah menyelam sangat dalam, dan semakin dalam, hingga aku lupa cara kembali ke permukaan.

Semesta tak pernah tidur. Aku yakin, dia selalu menyaksikanku berusaha membangun “kita”. Meski aku tau, jalan tak selalu mulus, dan kau masih diam di tempat.

Meski kita tak masih bersama dalam hari-hari yang semakin banyak jumlahnya, aku tidak merasa hari-hari itu menjadi pemisah. Ya, meski aku tahu, kau tidak perlu lagi diharapkan. Namun sedihnya, meski kutau apa yang sedang terjadi aku masih saja menaruh harapan. Aku benar-benar keras kepala.

Banyak sekali tentang kamu mulai dari satu hingga dua ratus empat puluh. Dua ratus empat puluh lembar surat pun kurasa tak akan cukup untuk menuliskannya. Meski sudah terhitung banyak, aku masih ingat setiap detailnya. Tentu saja aku tak akan pernah lupa meski aku tak akan pernah berusaha mengingatnya.

Ada namamu dalam doaku selama dua ratus empat puluh hari. Dan selama itu, aku mencintaimu. Hingga dua ratus empat puluh hari berikutnya, berikutnya, dan selamanya.

Dua ratus empat puluh ini, akan menjadi sejarah. Dua ratus empat puluh hari; dua ratus empat puluh air mata, dua ratus empat puluh tawa, dua ratus empat puluh jatuh, dan dua ratus empat puluh bangkit.


Dini hari di kota dingin, 22 Juli 2014

0 komentar:

Posting Komentar

 

Aksara dari Pena Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos