Siapa yang menyangka aku sudah
berjalan sejauh ini. Aku tidak suka berlari. Semua orang tau, berjalan perlu
waktu yang lebih lama untuk sampai tujuan. Dan aku lebih menyukainya. Setiap
angka yang aku lewati akan terasa lebih lama, karena aku tidak ingin waktu
berlalu cepat dan segera menghilangkan adamu di sisiku. Ya, satu, dua, tiga,
hingga dua ratus empat puluh.
Hatimu bagai samudera. Bahkan
hingga hari ke dua ratus empat puluh ini, aku belum usai menyelaminya. Padahal
aku sudah menyelam sangat dalam, dan semakin dalam, hingga aku lupa cara
kembali ke permukaan.
Semesta tak pernah tidur. Aku
yakin, dia selalu menyaksikanku berusaha membangun “kita”. Meski aku tau, jalan
tak selalu mulus, dan kau masih diam di tempat.
Meski kita tak masih bersama
dalam hari-hari yang semakin banyak jumlahnya, aku tidak merasa hari-hari itu
menjadi pemisah. Ya, meski aku tahu, kau tidak perlu lagi diharapkan. Namun
sedihnya, meski kutau apa yang sedang terjadi aku masih saja menaruh harapan.
Aku benar-benar keras kepala.
Banyak sekali tentang kamu mulai
dari satu hingga dua ratus empat puluh. Dua ratus empat puluh lembar surat pun kurasa tak akan cukup untuk menuliskannya. Meski sudah terhitung banyak, aku masih
ingat setiap detailnya. Tentu saja aku tak akan pernah lupa meski aku tak akan
pernah berusaha mengingatnya.
Ada namamu dalam doaku selama dua
ratus empat puluh hari. Dan selama itu, aku mencintaimu. Hingga dua ratus empat
puluh hari berikutnya, berikutnya, dan selamanya.
Dua ratus empat puluh ini, akan
menjadi sejarah. Dua ratus empat puluh hari; dua ratus empat puluh air mata,
dua ratus empat puluh tawa, dua ratus empat puluh jatuh, dan dua ratus empat
puluh bangkit.
Dini hari di kota dingin, 22 Juli 2014


0 komentar:
Posting Komentar