Rambutnya putih, berwarna keperak-perakan juga
ada yang berwarna keemasan; semir rambut hitam yang perlahan memudar. Kulitnya
yang terbakar matahari mulai mengkerut di mana-mana termakan usia. Tingginya
tak sampai seratus lima puluh sentimeter kurasa, meski aku tak pernah
mendapatinya berdiri. Tulangnya berlomba-lomba memperlihatkan keberadaannya.
Sikunya sangat tajam, matanya sayu, senyumnya tampak sangat tulus meski kutau
ada berbagai luka di baliknya. Setiap hari, ia mengisi wadah-wadah kecil dari
tanah liat dengan adonan tepung dicampur gula jawa dan kelapa. Abu dari arang
yang beterbangan sesekali membuat dia terbatuk-batuk. Aku memanggilnya Nenek
Serabi.
Di trotoar perempatan jalan dekat alun-alun, ia
selalu duduk di situ membuat serabi. Kata ibuku, Nenek Serabi memang selalu
duduk di situ, dari dulu sejak aku belum tinggal di kota ini; aku pindah dari
Jakarta saat kelas tiga Sekolah Dasar. Ibuku bercerita, Nenek Serabi sudah
duduk di situ sejak rambutnya masih lebat dan legam, sejak kulitnya masih
kencang, sejak dia masih berdiri tegap, sejak matanya masih berbinar-binar, dan
sejak ia masih memliki senyum yang murni kebahagiaan. Pukul enam pagi.
Aku tidak pernah membeli serabi miliknya,
kecuali saat bersama ibu. Padahal, setiap minggu aku dan teman-teman selalu mampir
ke alun-alun untuk sekadar mencari keringat, atau untuk memanjakan lidah dan
perut. Aku melewatinya begitu saja,
meski dalam hati kecilku tersurat perasaan iba luar biasa kepada Nenek Serabi.
Kadang, ada segerombol anak kecil yang nakal ingin mengambil serabi buatan
nenek. Tapi mereka lalu kabur, karena Nenek Serabi marah-marah dan tentu saja
para pembelinya ikut memarahi anak-anak nakal itu. Dan entah mengapa yang selalu aku
dengar dari mulut Nenek Serabi jika anak-anak nakal itu kembali adalah “Jangan jadi maling! Nanti kalian kena
api! Hangus!”
Minggu pagi, seperti biasa aku datang ke
alun-alun. Yang tidak biasa adalah, aku pergi sendiri. Tanpa ibu, tanpa teman.
Aku sengaja datang pagi-pagi sebelum pukul enam agar aku bisa melihat Nenek
Serabi. Entah aku yang kesiangan, atau dia yang datang terlalu pagi. Dia sudah
ada di sana. Mengipas-ipas arang agar merahnya semakin membara.
“Tumben, Nek, sudah di sini.”
Sepertinya perkataanku membuat Nenek Serabi
terhenyak kaget dari lamunannya. Untung saja Nenek Serabi tidak menderita
penyakit jantung. Jika itu sampai terjadi, entah apa yang harus kulakukan. Yang
pasti, aku akan sangat berdosa.
“I…iya. Memang berangkat lebih pagi. Soalnya
tadi nyari daun pisang dulu. Takut kesiangan. Ini, Nak, mau serabi?”
Spontan aku langsung merogoh-rogoh saku celana.
“Ini buat kamu, Nak. Gratis.”
Aku duduk di samping Nenek Serabi. Percakapan
antara aku dan nenek lebih cepat masuk ke kepala dari pada serabi nenek masuk
ke dalam perut. Basa-basi awal kita memang sangat membosankan. Aku sampai
hampir menyerah memasang muka gembira. Hingga akhirnya ada yang menarik
perhatianku pada cerita nenek. Nenek sempat menyaksikan kekejaman luar biasa,
kekejaman tanpa rasa kemanusiaan. Tapi makin hari, hal itu berubah menjadi hal
yang biasa saja, layaknya sebuah ritual adat, atau santap pagi seorang anak
yang akan berangkat sekolah.
Nenek menyaksikan bara api bercampur pada tubuh
manusia yang sebelumnya sudah dikeroyok. Warga mengamuk pada seorang maling dan
memukulinya dengan apa saja kecuali dengan tangan dan perasaan. Lalu maling
malang itu disirami dengan bensin dan dilempari puntung rokok.
“Setiap minggu paling tidak ada tiga maling yang
jadi maling panggang, Nak. Nenek dulu masih kecil. Jualan serabi juga, nemenin
ibu. Tapi tidak di sini. Dulu di kota lain, dekat stasiun kereta.”
Bangkainya dibiarkan saja terbakar. Warga hanya
menatap lalu meninggalkannya. Hanya Nenek Serabi dan ibunya yang menyaksikan sampai
api padam. Ibu Nenek Serabi selalu menutup mata Nenek Serabi ketika kejadian di
luar kemanusiaan itu berlangsung. Namun percuma saja, apinya terlalu merah,
hingga tentu saja terlihat jelas pada mata hitam milik Nenek Serabi. Toh Ibu
Nenek Serabi sering menyuruh Nenek Serabi untuk menutupi mayat-mayat hangus
dengan daun pisang.
Aku bergidik ngeri, sambil menelan gigitan
serabi yang terakhir.
“Tidak usah takut begitu, Nak. Itu kan zaman
dulu. Kejahatan seperti itu dibiarkan saja meski banyak orang-orang yang
membicarakan di belakang. Tapi siapa yang berani melawan? Kalo sekarang kan
gampang. Tinggal lapor saja ke polisi.”
Aku membalas dengan senyum yang akhirnya
dibuyarkan oleh anak-anak nakal yang sudah langganan mengganggu Nenek Serabi.
“Jangan jadi maling! Nanti kalian kena api!
Hangus!”, spontan omelan itu keluar dari mulutku. Anak-anak itu lari terbirit-birit.
Nenek Serabi sempat heran melihat perilakuku barusan, namun akhirnya dia
tertawa terbahak-bahak. Bahunya naik turun, matanya sampai setengah terpejam,
dan dia memamerkan gusi yang tak ada giginya lagi. Aku hanya ikut tertawa
canggung.
Langit yang ungu sudah semakin menjadi biru,
dan pembeli semakin ramai berdatangan. Aku beranjak, berjalan meninggalkan
Nenek Serabi. Dari balik punggungku, terdengar riuh suara-suara manusia yang
semakin lama semakin memudar. Hingga saat aku berbalik, aku melihat sebuah
siluet manusia, dikelilingi merah api membara.

