Senja hampir habis. Kereta yang kutunggu tak kunjung datang....
Angin sore bersiul berbisik ke
telinga. Membelai rambut panjangku, menggelitik dedaunan kering, mengajaknya
untuk berlarian. Aku mulai kedinginan. Syal kesayanganku tertinggal. Aku hanya
duduk menunggu entah siapa. Kopor yang kubawa kubiarkan sendiri di antara
cahaya senja yang temaram. Aku masih terdiam.
Senja hampir habis. Kereta yang kutunggu tak kunjung datang....
Kupejamkan mata, aku hirup harum
indah senja di stasiun kereta. Harumnya melewati lubang hidungku, lalu masuk
hingga ke paru-paru. Dadaku terasa lebih lega. Aku menjadi lebih tenang. Lalu
aku membuka mata, melihat kenyataan bahwa senja yang indah bisa saja membawa
musibah. Kupejamkan mataku sekali lagi, lalu air mataku merangkak perlahan di
atas pipiku. Dadaku sesak.
Senja hampir habis. Kereta yang kutunggu tak kunjung datang....
Aku beranjak. Aku berjalan
perlahan. Aku berjalan, sedang mencari. Mencari entah siapa yang pernah hilang.
Dia pernah datang, namun terlalu cepat berlalu.
Senja hampir habis. Kereta yang kutunggu tak kunjung datang....
Senja ini penuh kenangan. Waktu
itu, senja pertamaku. Waktu itu, aku masih bisa tersenyum. Waktu itu, aku
selalu merasa hangat. Waktu itu, aku tidak pernah merasa sendiri. Waktu itu,
aku masih bisa berlari. Waktu itu, aku selalu merasa kuat. Waktu itu, detik
terasa cepat berlalu. Waktu itu, ada dia, Si Entah Siapa.
Senja hampir habis. Kereta yang kutunggu tak kunjung datang....
Senja begitu cepat menjadi kelam.
Mungkin dia juga sedang berduka. Kehilangan Sang Fajar yang dicintainya. Ia
dipisahkan oleh Sang Malam. Mereka tidak pernah bertemu, namun saling
mengasihi.
Senja hampir habis. Kereta yang kutunggu tak kunjung datang....
Aku menunggu keretaku. Lalu aku
terpejam. Aku benar-benar kehilangan.
Stasiun Kereta, 10 Januari 2014


0 komentar:
Posting Komentar