Kusampaikan dalam ribuan kata tentang kita yang terlalu lama
dalam jeda. Merekat dalam suatu kertas yang tak boleh kandas. Membentuk suatu keping
hati yang sempat terberai karena derai. Menyemat seperti api yang membakar,
namun sengaja memberi waktu untuk dipadamkan.
Seperti cerita dalam novel, kau dan aku adalah karakter yang
dikendalikan Sang Narator. Dibuatnya kita jatuh cinta, didorongnya kita untuk
saling mengumbar rasa sayang. Kau bertanya,
aku mengangguk, lalu kita berjalan. Untuk beberapa waktu lamanya, semuanya
terasa tak bercela. Kau dan aku yakin akan selalu bersama selamanya.
Hingga suatu saat, pasti terbitlah masalah. Namun jangan
pernah sampai menggoyahkanmu, ya. Jangan mau menyerah. Meski awal memang selalu
indah, aku tau pasti akan ada saat di mana kita harus bersusah payah. Aku ingin
awal kisah yang bahagia dengan akhir yang bahagia juga. Mmm...tidak. Kisah ini tidak memiliki akhir, karena kisah ini akan berjalan
selamanya.
Setiap tempat yang kita pijak akan selalu menjadi istana. Karena
kamu, Pangeran Waktu. Detik bersamamu singgasanaku.
Mataku butuh cahaya, tetapi lebih butuh matamu. Telingaku butuh
suara, tetapi lebih butuh gelak tawamu.
Diamlah di situ. Kelak aku akan menghampirimu. Membacakan lembar
demi lembar, hari kita yang tak akan pernah hambar.
Diamlah di situ. Kelak jika mereka bertanya, katakan kau
punya seribu waktu untuk menunggu. Tak tersentuh ragu.
Diamlah di situ. Kelak aku akan berlutut dan meminta. Menjadi
satu-satunya yang memastikan kau bahagia selamanya.
Jika kamu pernah menyimpan luka, berikan padaku. Aku akan
menyimpannya di sepanjang jejak yang kutinggalkan.
Jika kamu pernah menyimpan takut, berikan padaku. Aku akan
menyimpannya di sepanjang nafas yang kuhembuskan.
Kau tahu? Bahkan dalam lelah, aku mencintaimu begitu
besarnya. Karena mencintaimu membuatku lengah. Lupa dari apa yang seharusnya
membuatku bahagia.
Tanpamu, pertunjukkan senja di panggung langit ialah sepi. Aku,
tetap sendiri di samping bangku kosong di barisan paling depan.
Di sini, hujan menemaniku. Dengan rintiknya, dia berseru
agar aku selalu bisa berteduh di matamu.
Di sini, rindumu telah menembus nadiku. Kini ia berlayar
tepat di jantungku.
Di sini, aku selalu menulis namamu. Tak hanya di kaca lembab
yang aku jumpa. Kutulis namamu di papan langit sepanjang waktu yang aku punya.
Sayang, berdoalah. Semoga metamorfosa cinta ini tak setragis
legenda Cleopatra. Jangan biarkan air mataku jatuh sia-sia.
Aku tidak ingin kehilangan. Baiklah, aku akui sekarang, aku takut.
Ketakutan setengah mati. Takut pada ketidakpastian, dan cerita di halaman
berikutnya. Kau terlalu berharga untuk kubiarkan pergi.
Padamu aku menetapkan rasa. Padaku sulit menyangkalnya lebih
lama. Dalam setiap doa, aku mengekalkan kita.
Oh ya, barangkali aku lupa mengucapkan hal sederhana yang
penting. Terimakasih ya, atas segalanya. Pernah ada yang mengatakan, hidup ini
adalah film terbaik. Dan bersamamu adalah scene yang tak akan pernah bosan aku
memutarnya.
Seperti kata Sapardi;
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata yang
tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang
tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Karena kamu, tidak terkecuali. :)
Di antara rinai hujan, 22 Desember 2013


0 komentar:
Posting Komentar