Senin, 23 Desember 2013

Di Paris Aku Menangis

Posted By Ainoire di 02.41
Paris kala itu musim gugur. Bersamaan dengan gugurnya angan cintaku padanya yang telah lama digantungkan. Harmonis meski miris. Dia menghilang begitu saja. Hanya sepucuk surat usang yang hingga hari ini masih aku simpan. Ucapan selamat tinggal yang sangat menyakitkan. Lipatan sana-sini yang hampir koyak. Tintanya juga sudah hampir luntur. Wajar saja umurnya sudah satu lustrum dan sering aku buka tutup untuk membacanya tanpa rasa jemu. Paling-paling akhirnya aku menangis tersedu-sedu. 

Bukan tentang dirinya saja. Ini tentang kenangan yang sulit dilupakan. Di mana kami bermain petak umpet, membeli lolipop extra besar, meniup terompet tahun baru, dan masih banyak lagi. Kenangan manis yang berubah pahit, hanya karena sebuah kejadian.


Kuawali pagi ini dengan sederhana. Aku seruput secangkir teh di depanku, disusul sepotong biskuit cokelat bertabur kismis kesukaanku. Tak lupa kuhidupkan radio tua pemberian nenek yang sedang mengkumandangkan lagu-lagu klasik ala Perancis.

Aku membuka jendela, mencoba menghirup hangatnya matahari yang masih muncul sepertiga. Wangi pagi ini membahagiakan, dan semoga udara pagi ini mampu membawa kabur kesakitanku. Kesakitan Mahacinta pada masa lalu.

Telepon genggamku berdering. Aku sedang terbuai dengan indahnya pagi, sehingga memaksa benda persegi panjang putih itu untuk berdering lebih dari sekali. Akhirnya pagi pun kalah. Aku berhasil tergoda menggapainya. Ternyata nomor tak dikenal. Sejenak dua jenak berpikir, akhirnya aku angkat telepon itu.
“Eleanor….”,  suara dari seberang sana seketika membuatku bergeming.
Tanganku bergetar. Belum sempat kumenjawab, telepon genggam itu sudah jatuh terlebih dahulu.


Di stasiun kereta, kali pertama kita bersua. Gerbong nomor tiga. Jack mengenakan kemeja putih yang tampak serasi dengan jeans denimnya. Langkah kakinya tidak terdengar karena tenggelam oleh keramaian. Namun, aku dapat merasakan langkahnya begitu tegas menuju ke arahku.

Aku lirik lelaki tampan yang duduk di sebelahku. Aku pura-pura cuek yang kuakali dengan tingkah membaca buku sembari mengenakan headset.

“Nona….” suaranya begitu dalam untuk merayuku menatap wajahnya.

tatap Ia dengan angkuh. Angkuh seangkuh-angkuhnya melebihi ratu jahat pada dongeng Rapunzel.

“Boleh aku meminjam pulpen?” lelaki itu ternyata tidak jera dengan perlakuanku padanya.

Aku berikan pulpen ungu kepadanya. Tanpa sepatah kata pun.

Ting tong ting tong. Stasiun tiga. Silakan keluar dalam lima menit. Stasiun tiga. Silakan keluar dalam lima menit.


Empat puluh delapan jam setelah kejadian itu, aku bertemu dengannya lagi. Ketika aku sedang berjalan di trotoar, Dia menepuk pundakku dari belakang sembari menyodorkan pulpen ungu milikku.

“Ini, terima kasih.” Ucapannya singkat namun tetap terlihat ramah.

Aku tersenyum padanya. Ini pertama kalinya aku mau memberi sedikit komunikasi yang berarti padanya.

“Namaku Jack.”

“Aku Eleanor.” Kujawab dengan sedikit senyum dan tanda tanya sembari membalas sodoran jabat tangan dari Jack. Bagaimana Ia bisa menemukanku?

Entah ilmu hipnotis apa yang Ia gunakan. Ia berhasil menaklukan seorang wanita super judes yang sangat malas berurusan dengan seorang pria.

Jack membawaku ke sebuah kedai teh sederhana di pinggir kota. Kedai teh itu tampak sudah tua sekali. Lantai kayunya pun berderit saat kita melangkah. Semuanya terbuat dari kayu. Serba kayu kecuali sendok dan gelasnya.


Delapan bulan berlalu. Hubunganku dengan Jack semakin erat. Aku tau aku bukan siapa-siapa. Dan aku tau, Jack juga bukan siapa-siapa. Siapa sangka dua orang insan Tuhan yang tidak sengaja bertemu di stasiun kereta bisa bersama hingga sejauh ini?

Aku tak mengerti. Entah angin apa, atau sebab ulah dewa dan dewi amor yang sedang melaksanakan tugasnya, atau karena hormon-hormon di tubuhku yang sudah dewasa. Perasaanku terhadap Jack rasanya mulai aneh. Gugup saat didekapnya, namun itu menyenangkan. Rasanya aku ingin selalu kedinginan agar selalu dipeluknya. Rindu berlebihan juga sering muncul bila aku tidak bertemu dengan Jack sehari saja. Aku jadi berpikir yang tidak-tidak.

Ini sungguh bertolak belakang dengan kesan pertamaku bertemu dengannya. Aku acuh, angkuh, jutek, sombong, dan semacamnya. Tapi sekarang? Ah, mungkin Jack hanya menganggapku seorang wanita yang dikenalnya secara tidak sengaja, atau seorang adik yang haus kasih sayang.

“Hei Eleanor! Tidak baik wanita secantik kamu melamun di bawah Eiffel.” Jack mengagetkanku.

Dia mengambil sesuatu dari ranselnya. Sebuah kamera.

“Kamera? Aku tak pernah tahu kau suka mengambil gambar.” Alis kananku naik dan mataku memicing pada benda di genggaman Jack itu.

“Kamu benar. Tapi ini karena kamu. Eh, maksudku ini untuk kita mengambil gambar. Tidak lengkap rasanya sudah ke Eiffel tanpa didokumentasikan.” 


Sore tadi begitu berarti. Ia seorang pria yang pantas untuk dikagumi.  Aku rebah di tanah. Aku tatap sang bintang tanpa kedip, lalu aku ajak Ia bercerita.

Aku menemukan sebuah keputusan. Itu usul dari bintang. Aku akan mencoba menghindar dari Jack. Aku pikir dengan yang aku lakukan ini, aku bisa memanfaatkan waktuku untuk lebih menjelajah hatiku sendiri dan menemukan harta karunnya. Menyelam lebih dalam hingga syaraf-syarafku bisa menyalurkan rangsangnya ke otak untuk mengolah bagaimana perasaanku. Apakah ini tulus atau hanya obsesi remaja pubertas.
Antara yakin dan setengah yakin, aku mencintai Jack?


Seperti biasa, menu wajibku untuk membuka sebuah pagi. Secangkir teh aroma melati, biskuit cokelat bertabur kismis, dan sebuah radio tua yang menyanyikan lagu-lagu klasik. Tak lupa sebuah tambahan, sebuah surat dari Jack.

Dia biasa melakukan ini setiap pagi. Mengirim surat ke apartemenku untuk mengajakku pergi berjalan-jalan. Entah kenapa dia tidak pernah menanyakan tentang nomor telepon.

Tapi hari ini sepertinya akan aku ubah. Aku ingat keputusanku tadi malam. Aku harus menghindar.


Setelah pagi itu dan seterusnya aku tidak mengiyakan ajakannya, aku pikir Jack akan menemuiku di apartemen. Ternyata ramalanku meleset. Dia juga menjauh dan semakin menjauh dari diriku yang memang ingin menjauh.

Tiga minggu tanpanya adalah hampa. Hingga aku ingat tentang kedai teh di mana aku dan Jack pertama berkencan.

Tanpa basa-basi, aku melaju menuju kedai teh itu. Aku membayangkan, sesampainya di sana akan ada Jack yang tersenyum menyambutku. Atau mungkin Ia menyiapkan kejutan. Atau bahkan akan ada adegan suap-suapan laksana telenovela. Aku pikir aku terlalu berlebihan.

Aku telah sampai. Tapi di mana Jack? Nihil. Di sana tak ada siapa-siapa kecuali pelayan yang sedang menunggu pelanggan.

Langkahku membawaku pada sebuah meja kayu di pojok ruangan. Meja yang menjadi saksi bisu pertemuan tak terduga aku dan Jack kala itu. Kedua bola mataku sudah tidak bergairah untuk mencari di mana Jack. Mereka lebih tertarik melihat sepucuk surat biru muda yang tergeletak di atas meja.

Aku ambil surat itu. Aku setengah yakin surat itu memang untukku. Tapi aku sudah terlanjur dikuasai rasa penasaran. Aku membuka suratnya.

Eleanor,
Maaf. Maaf. Maaf.
Aku sangat menyesal ketika kau mengabaikan ajakanku pagi itu. Padahal aku berpikir agar aku bisa membuatmu bahagia untuk terakhir kalinya.
Inti surat ini hanya permohonan maafku padamu. Aku harus pergi. Memang pernyataan yang berat. Namun ini harus aku lakukan. Aku harus pergi Eleanor. Harus pergi.
Dan mungkin tidak akan kembali. Tapi aku akan selalu ada di hatimu. Mencintaimu.
Maaf. Maaf. Maaf.
                                                                                                                                                                                Jack David Bolt

Hatiku lumer. Air mataku langsung merembes. Dadaku sesak. Terpaku di sudut kedai teh di senja musim gugur yang menyedihkan. Senja perpisahan. Wanita mana yang tidak sakit hati lelaki pujaannya hilang selamanya, dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang isinya sama sekali tidak memuaskan? Pergi untuk apa? Mengapa Jack tidak menjelaskan? Dan lebih menyakitkan lagi, dia mencintaiku?

Belum selesai kesedihanku, aku lirik lagi meja itu. Ada sebuah bingkai foto. Foto dua insan yang aku pikir akan berhasil menyelesaikan cerita Tuhan ini dengan bahagia. Dan di sebelahnya ada secangkir teh, dan biskuit cokelat bertabur kismis kesukaanku.

Daun-daun di luar yang berguguran hanya menatapku dalam diam. Angin senja yang sedari tadi mondar-mandir juga tak menampakan reaksinya. Lantai kayu tempatku berpijak sedikit bergetar meski tak mampu menumbangkan kedai tehnya. Atau kakiku yang bergetar? Kedai teh sore itu kosong. Sepi.

Ini perpisahan paling menyakitkan. Tanpa pelukan, tanpa ciuman.

Jangan sebut Paris kota romantis, kota cinta. Ialah Paris kota yang membawa luka.


Telepon genggamku berdering tanda ada pesan masuk. Aku raih benda yang sempat terjatuh itu. Aku buka pesannya.

Eleanor, mungkin kamu sering bertanya-tanya permainan apa yang sedang aku lakukan. Aku tak tahu kamu masih menunggu atau sudah menyerah.
Kisah tak selalu indah, Eleanor. Tak pernah terduga. Buktinya, pertemuan murahan di stasiun kereta itu bisa membawa kita sampai di sini. Kadang, kita tak menyadari bahwa harus ada sepasang malaikat yang memang ditakdirkan untuk bersama di dunia. Namun ada juga yang tidak. Sepasang malaikat itu akan bersama di surga.

Aku menangis sejadi-jadinya. Untuk kedua kalinya aku mengatakan Paris bukan kota romantis. Ialah Paris kota yang membawa luka.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Aksara dari Pena Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos