Aku menulis ini
dalam sebuah kenyamanan; kamar kecil di lantai dua dengan cat tembok pink dan
biru. Ditemani kesunyian sang kegelapan. Aungan motor terdengar jarang. Malam
sudah tinggi. Lampu jalan membiaskan bayang rumah penduduk; mengalahkan
sepasang kunang-kunang yang berkedip sendirian.
Aku menggapai
cangkir di sudut jendela sampai aku sadar kopiku hampir habis. Setengah malas
beranjak, aku berjalan turun menyusuri tangga; menuruni kenangan meninggalkan
masa depan ke lantai satu. Aku berniat membuangnya. Tidak, aku tidak mau
melakukannya. Kenangan harus menjadi kenangan. Meski warnanya hitam, wanginya
selalu berwarna.
Aku buat lagi
kopiku. Aku suka kopi yang tidak terlalu manis; wanginya saja sudah membuatku
hanyut pada pahitnya. Kenangan bersamanya indah, namun tak akan indah jika
dikaitkan dengan kenyataan hari ini. Kamu, seseorang pada masa kecilku. Momen
terakhir yang aku ingat adalah ketika harimu bertambah usia. Entah yang
keberapa. Sepertinya aku juga lupa kapan harimu itu.
Setiap hari aku
berusaha berkali-kali untuk pura-pura lupa. Tapi kamu tak pernah membawaku pada
amnesia. Ya, aku masih saja ingat hari ulangtahunmu itu. Aku mengunjungi
rumahmu bersama orang tuaku. Waktu aku tiba, kamu belum berdandan. Kamu masih
berada di kolam dalam rumahmu yang mungkin dalamnya tidak mencapai semeter. Aku
menghampiri di mulut kolam dan kita bertukar tawa.
Aku jadi lupa tentang
kopiku. Aku aduk hingga hitamnya merata. Lalu kenangan lain terlihat di dalam
pusaran airnya. Setelah kita berbeda kota, kita seperti sudah lupa. Aku dan
kamu tidak pernah bertukar kabar. Hingga pada suatu waktu aku berani menulis
surat. Aku menulis tentang banyak hal sebagai upah kerinduanku. Tak lupa
kutuliskan nomorku. Kamu menerima tulisanku. Kamu tak membalas. Ternyata kamu
mengirimiku pesan singkat. Aku bahagia. Sebahagia kupu-kupu yang menjumpai
sepasang bunga.
Malam makin larut,
kopi yang kubuat mulai mendingin. Lalu aku kembali terpaksa untuk mengenang
cerita lama itu. Dadaku sesak.
Tenggorokanku tercekat. Aku tak bisa mengatur hela nafasku. Aku bergegas menaiki tangga menuju
kenyamananku. Aku duduk. Seteguk dua teguk kopi mulai menenangkanku. Pada pesan
singkatmu: "aku ingin kamu segera mengetahuinya. Cuma tiga kata, kok. Kamu pasti sudah taulah karena ini klise.
Kamu berharga." Aku tersenyum namun juga menangis. Jangan salah, ini bukan
air mata kebahagiaan. Ini tentang kenyataan menyakitkan. Aku ingin namun takdir kita telah berbeda. Hmm...aku lupa kejadian
setelah itu. Nampaknya aku setengah berhasil amnesia.
Kehilangan jejakmu
tidak membuatku diam. Aku selalu mencarimu. Di sela nafasku, dalam mimpiku, di
setiap helai sedihku, di setiap jejak yang kutinggalkan, semuanya. Karena di
dalam aku, ada harap yang tak kunjung jera. Ia bernama cinta. Aku yakin, akan
ada hari di mana aku bisa mendengar kabarmu lagi. Sampai akhirnya aku menemukan
titik cerah. Aku ragu untuk memulainya lagi. Namun jika tidak, jerih payah
menunggumu selama ini akan sia-sia. Hingga akhirnya aku berhasil mengawalinya.
Sayangnya kamu
berubah. Kamu bukan kamu yang dulu lagi. Sepertinya perasaanmu tak lagi sama.
Mungkin perjuangan ini hanya aku lakukan sendiri. Tapi aku tak memaksamu untuk
merasakan yang kurasakan. Bukan salahmu jika ketika aku datang, cinta itu
ternyata tak pernah ada. Bahkan aku juga tidak tahu bagaimana sekarang kamu
tertawa, bercerita, bernyanyi, dan
bermain musik. Pada intinya, aku hidup dalam rasa penasaran. Aku ini rindu.
Masihkah mungkin kita bertatap muka? Setelah ini aku jadi sadar. Kebahagiaan
menjadi begitu sederhana. Saat aku sekadar melihatmu untuk kali pertama, kedua,
dan seterusnya.
Aku rebah di
peraduan. Kutarik selimutku sampai dada. Jarum jam memperingatkanku bahwa fajar
hampir menang. Aku tertidur, aku bermimpi. Saat rinduku tidak sanggup
membisikimu, mohon buka jendelamu. Aku telah titipkan senyumku pada rembulan
dan rinduku pada angin malam. Bila malammu tak berbulan, aku telah lupa. Temui
aku langsung, di dalam mimpi kita. Tapi apa ini tak sia-sia? Apa aku tidak
bodoh? Mencintaimu membuatku lengah; lupa dari apa yang seharusnya membuatku
bahagia.
Biarkan narasi ini menemukan takdirnya
sendiri. Biarkan narasi ini pulang ke rumahnya sendiri. Ketika narasi ini
sampai kepadamu. :)
Kota dingin, 13
Oktober 2013


0 komentar:
Posting Komentar