Senin, 23 Desember 2013

Narasi Secangkir Kopi

Posted By Ainoire di 02.14
Aku menulis ini dalam sebuah kenyamanan; kamar kecil di lantai dua dengan cat tembok pink dan biru. Ditemani kesunyian sang kegelapan. Aungan motor terdengar jarang. Malam sudah tinggi. Lampu jalan membiaskan bayang rumah penduduk; mengalahkan sepasang kunang-kunang yang berkedip sendirian.

Aku menggapai cangkir di sudut jendela sampai aku sadar kopiku hampir habis. Setengah malas beranjak, aku berjalan turun menyusuri tangga; menuruni kenangan meninggalkan masa depan ke lantai satu. Aku berniat membuangnya. Tidak, aku tidak mau melakukannya. Kenangan harus menjadi kenangan. Meski warnanya hitam, wanginya selalu berwarna.

Aku buat lagi kopiku. Aku suka kopi yang tidak terlalu manis; wanginya saja sudah membuatku hanyut pada pahitnya. Kenangan bersamanya indah, namun tak akan indah jika dikaitkan dengan kenyataan hari ini. Kamu, seseorang pada masa kecilku. Momen terakhir yang aku ingat adalah ketika harimu bertambah usia. Entah yang keberapa. Sepertinya aku juga lupa kapan harimu itu.

Setiap hari aku berusaha berkali-kali untuk pura-pura lupa. Tapi kamu tak pernah membawaku pada amnesia. Ya, aku masih saja ingat hari ulangtahunmu itu. Aku mengunjungi rumahmu bersama orang tuaku. Waktu aku tiba, kamu belum berdandan. Kamu masih berada di kolam dalam rumahmu yang mungkin dalamnya tidak mencapai semeter. Aku menghampiri di mulut kolam dan kita bertukar tawa.

Aku jadi lupa tentang kopiku. Aku aduk hingga hitamnya merata. Lalu kenangan lain terlihat di dalam pusaran airnya. Setelah kita berbeda kota, kita seperti sudah lupa. Aku dan kamu tidak pernah bertukar kabar. Hingga pada suatu waktu aku berani menulis surat. Aku menulis tentang banyak hal sebagai upah kerinduanku. Tak lupa kutuliskan nomorku. Kamu menerima tulisanku. Kamu tak membalas. Ternyata kamu mengirimiku pesan singkat. Aku bahagia. Sebahagia kupu-kupu yang menjumpai sepasang bunga.

Malam makin larut, kopi yang kubuat mulai mendingin. Lalu aku kembali terpaksa untuk mengenang cerita lama itu. Dadaku  sesak. Tenggorokanku tercekat. Aku tak bisa mengatur hela nafasku.  Aku bergegas menaiki tangga menuju kenyamananku. Aku duduk. Seteguk dua teguk kopi mulai menenangkanku. Pada pesan singkatmu: "aku ingin kamu segera mengetahuinya. Cuma tiga kata, kok. Kamu pasti sudah taulah karena ini klise. Kamu berharga." Aku tersenyum namun juga menangis. Jangan salah, ini bukan air mata kebahagiaan. Ini tentang kenyataan menyakitkan. Aku ingin namun takdir  kita telah berbeda. Hmm...aku lupa kejadian setelah itu. Nampaknya aku setengah berhasil amnesia.

Kehilangan jejakmu tidak membuatku diam. Aku selalu mencarimu. Di sela nafasku, dalam mimpiku, di setiap helai sedihku, di setiap jejak yang kutinggalkan, semuanya. Karena di dalam aku, ada harap yang tak kunjung jera. Ia bernama cinta. Aku yakin, akan ada hari di mana aku bisa mendengar kabarmu lagi. Sampai akhirnya aku menemukan titik cerah. Aku ragu untuk memulainya lagi. Namun jika tidak, jerih payah menunggumu selama ini akan sia-sia. Hingga akhirnya aku berhasil mengawalinya.

Sayangnya kamu berubah. Kamu bukan kamu yang dulu lagi. Sepertinya perasaanmu tak lagi sama. Mungkin perjuangan ini hanya aku lakukan sendiri. Tapi aku tak memaksamu untuk merasakan yang kurasakan. Bukan salahmu jika ketika aku datang, cinta itu ternyata tak pernah ada. Bahkan aku juga tidak tahu bagaimana sekarang kamu tertawa, bercerita, bernyanyi,  dan bermain musik. Pada intinya, aku hidup dalam rasa penasaran. Aku ini rindu. Masihkah mungkin kita bertatap muka? Setelah ini aku jadi sadar. Kebahagiaan menjadi begitu sederhana. Saat aku sekadar melihatmu untuk kali pertama, kedua, dan seterusnya.

Aku rebah di peraduan. Kutarik selimutku sampai dada. Jarum jam memperingatkanku bahwa fajar hampir menang. Aku tertidur, aku bermimpi. Saat rinduku tidak sanggup membisikimu, mohon buka jendelamu. Aku telah titipkan senyumku pada rembulan dan rinduku pada angin malam. Bila malammu tak berbulan, aku telah lupa. Temui aku langsung, di dalam mimpi kita. Tapi apa ini tak sia-sia? Apa aku tidak bodoh? Mencintaimu membuatku lengah; lupa dari apa yang seharusnya membuatku bahagia.

Biarkan narasi ini menemukan takdirnya sendiri. Biarkan narasi ini pulang ke rumahnya sendiri. Ketika narasi ini sampai kepadamu. :)

Kota dingin, 13 Oktober 2013

0 komentar:

Posting Komentar

 

Aksara dari Pena Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos