Paris kala itu
musim gugur. Bersamaan dengan gugurnya angan cintaku padanya yang telah lama digantungkan. Harmonis
meski miris. Dia menghilang begitu saja. Hanya sepucuk surat usang yang hingga
hari ini masih aku simpan. Ucapan selamat tinggal yang sangat menyakitkan.
Lipatan sana-sini yang hampir koyak. Tintanya juga sudah hampir luntur. Wajar
saja umurnya sudah satu lustrum dan sering aku buka tutup untuk membacanya tanpa rasa jemu.
Paling-paling akhirnya aku menangis tersedu-sedu.
Bukan tentang dirinya saja. Ini tentang kenangan yang sulit dilupakan.
Di mana kami bermain petak umpet, membeli lolipop extra besar, meniup terompet
tahun baru, dan masih banyak lagi. Kenangan manis yang berubah pahit, hanya
karena sebuah kejadian.
Kuawali pagi ini dengan sederhana. Aku seruput secangkir teh di depanku,
disusul sepotong biskuit cokelat bertabur kismis kesukaanku. Tak lupa
kuhidupkan radio tua pemberian nenek yang sedang mengkumandangkan lagu-lagu
klasik ala Perancis.
Aku membuka jendela, mencoba menghirup hangatnya matahari yang masih
muncul sepertiga. Wangi pagi ini membahagiakan, dan semoga udara pagi ini mampu
membawa kabur kesakitanku. Kesakitan Mahacinta pada masa lalu.
Telepon genggamku berdering. Aku sedang terbuai dengan indahnya pagi,
sehingga memaksa benda persegi panjang putih itu untuk berdering lebih dari
sekali. Akhirnya pagi pun kalah. Aku berhasil tergoda menggapainya. Ternyata
nomor tak dikenal. Sejenak dua jenak berpikir, akhirnya aku angkat telepon itu.
“Eleanor….”, suara dari seberang
sana seketika membuatku bergeming.
Tanganku bergetar. Belum sempat kumenjawab,
telepon genggam itu sudah jatuh terlebih dahulu.
Di stasiun kereta, kali pertama kita bersua. Gerbong nomor tiga. Jack
mengenakan kemeja putih yang tampak serasi dengan jeans denimnya. Langkah
kakinya tidak terdengar karena tenggelam oleh keramaian. Namun, aku dapat
merasakan langkahnya begitu tegas menuju ke arahku.
Aku lirik lelaki tampan yang duduk di sebelahku. Aku pura-pura cuek yang
kuakali dengan tingkah membaca buku sembari mengenakan headset.
“Nona….” suaranya begitu dalam untuk merayuku menatap wajahnya.
tatap Ia dengan angkuh. Angkuh seangkuh-angkuhnya melebihi ratu
jahat pada dongeng Rapunzel.
“Boleh aku meminjam pulpen?” lelaki itu ternyata tidak jera dengan
perlakuanku padanya.
Aku berikan pulpen ungu kepadanya. Tanpa sepatah kata pun.
Ting
tong ting tong. Stasiun tiga. Silakan keluar dalam lima menit. Stasiun tiga. Silakan
keluar dalam lima menit.
Empat puluh delapan jam setelah kejadian itu, aku bertemu dengannya
lagi. Ketika aku sedang berjalan di trotoar, Dia menepuk pundakku dari belakang
sembari menyodorkan pulpen ungu milikku.
“Ini, terima kasih.” Ucapannya singkat namun tetap terlihat ramah.
Aku tersenyum padanya. Ini pertama kalinya aku mau memberi sedikit
komunikasi yang berarti padanya.
“Namaku Jack.”
“Aku Eleanor.” Kujawab dengan sedikit senyum dan tanda tanya sembari
membalas sodoran jabat tangan dari Jack. Bagaimana Ia bisa menemukanku?
Entah ilmu hipnotis apa yang Ia gunakan. Ia berhasil menaklukan seorang
wanita super judes yang sangat malas berurusan dengan seorang pria.
Jack membawaku ke sebuah kedai teh sederhana di
pinggir kota. Kedai teh itu tampak sudah tua sekali. Lantai kayunya pun
berderit saat kita melangkah. Semuanya terbuat dari kayu. Serba kayu kecuali
sendok dan gelasnya.
Delapan bulan berlalu. Hubunganku dengan Jack semakin erat. Aku tau aku
bukan siapa-siapa. Dan aku tau, Jack juga bukan siapa-siapa. Siapa sangka dua
orang insan Tuhan yang tidak sengaja bertemu di stasiun kereta bisa bersama
hingga sejauh ini?
Aku tak mengerti. Entah angin apa, atau sebab ulah
dewa dan dewi amor yang sedang melaksanakan tugasnya, atau karena hormon-hormon
di tubuhku yang sudah dewasa. Perasaanku terhadap Jack rasanya mulai aneh.
Gugup saat didekapnya, namun itu menyenangkan. Rasanya aku ingin selalu
kedinginan agar selalu dipeluknya. Rindu berlebihan juga sering muncul bila aku
tidak bertemu dengan Jack sehari saja. Aku jadi berpikir yang tidak-tidak.
Ini sungguh bertolak belakang dengan kesan pertamaku bertemu dengannya.
Aku acuh, angkuh, jutek, sombong, dan semacamnya. Tapi sekarang? Ah, mungkin
Jack hanya menganggapku seorang wanita yang dikenalnya secara tidak sengaja,
atau seorang adik yang haus kasih sayang.
“Hei Eleanor! Tidak baik wanita secantik kamu melamun di bawah Eiffel.”
Jack mengagetkanku.
Dia mengambil sesuatu dari ranselnya. Sebuah kamera.
“Kamera? Aku tak pernah tahu kau suka mengambil gambar.” Alis kananku
naik dan mataku memicing pada benda di genggaman Jack itu.
“Kamu benar. Tapi ini karena kamu. Eh, maksudku
ini untuk kita mengambil gambar. Tidak lengkap rasanya sudah ke Eiffel tanpa
didokumentasikan.”
Sore tadi begitu berarti. Ia seorang pria yang pantas untuk
dikagumi. Aku rebah di tanah. Aku tatap
sang bintang tanpa kedip, lalu aku ajak Ia bercerita.
Aku menemukan sebuah keputusan. Itu usul dari bintang. Aku akan mencoba
menghindar dari Jack. Aku pikir dengan yang aku lakukan
ini, aku bisa memanfaatkan waktuku untuk lebih menjelajah hatiku sendiri dan
menemukan harta karunnya. Menyelam lebih dalam hingga syaraf-syarafku
bisa menyalurkan rangsangnya ke otak untuk mengolah bagaimana perasaanku.
Apakah ini tulus atau hanya obsesi remaja pubertas.
Antara yakin dan setengah yakin, aku mencintai
Jack?
Seperti biasa, menu wajibku untuk membuka sebuah pagi. Secangkir teh
aroma melati, biskuit cokelat bertabur kismis, dan sebuah radio tua yang
menyanyikan lagu-lagu klasik. Tak lupa sebuah tambahan, sebuah surat dari Jack.
Dia biasa melakukan ini setiap pagi. Mengirim surat ke apartemenku untuk
mengajakku pergi berjalan-jalan. Entah kenapa dia tidak pernah menanyakan
tentang nomor telepon.
Tapi hari ini sepertinya akan aku ubah. Aku
ingat keputusanku tadi malam. Aku harus menghindar.
Setelah pagi itu dan seterusnya aku tidak mengiyakan ajakannya, aku
pikir Jack akan menemuiku di apartemen. Ternyata ramalanku meleset. Dia juga
menjauh dan semakin menjauh dari diriku yang memang ingin menjauh.
Tiga minggu tanpanya adalah hampa. Hingga aku ingat tentang kedai teh di
mana aku dan Jack pertama berkencan.
Tanpa basa-basi, aku melaju menuju kedai teh itu. Aku membayangkan,
sesampainya di sana akan ada Jack yang tersenyum menyambutku. Atau mungkin Ia
menyiapkan kejutan. Atau bahkan akan ada adegan suap-suapan laksana
telenovela. Aku pikir aku terlalu berlebihan.
Aku telah sampai. Tapi di mana Jack? Nihil. Di sana tak ada siapa-siapa
kecuali pelayan yang sedang menunggu pelanggan.
Langkahku membawaku pada sebuah meja kayu di pojok ruangan. Meja yang
menjadi saksi bisu pertemuan tak terduga aku dan Jack kala itu. Kedua bola
mataku sudah tidak bergairah untuk mencari di mana Jack. Mereka lebih tertarik
melihat sepucuk surat biru muda yang tergeletak di atas meja.
Aku ambil surat itu. Aku setengah yakin surat itu memang untukku. Tapi
aku sudah terlanjur dikuasai rasa penasaran. Aku membuka suratnya.
Eleanor,
Maaf. Maaf.
Maaf.
Aku sangat menyesal ketika kau mengabaikan ajakanku pagi itu. Padahal
aku berpikir agar aku bisa membuatmu bahagia untuk terakhir kalinya.
Inti surat ini
hanya permohonan maafku padamu. Aku harus pergi. Memang pernyataan yang berat.
Namun ini harus aku lakukan. Aku harus pergi Eleanor. Harus pergi.
Dan mungkin
tidak akan kembali. Tapi aku akan selalu ada di hatimu. Mencintaimu.
Maaf. Maaf. Maaf.
Jack David Bolt
Hatiku lumer. Air
mataku langsung merembes. Dadaku sesak. Terpaku di sudut kedai teh di senja musim gugur yang
menyedihkan. Senja perpisahan. Wanita mana yang tidak sakit hati lelaki pujaannya hilang
selamanya, dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang isinya sama sekali tidak
memuaskan? Pergi untuk apa? Mengapa Jack tidak menjelaskan? Dan lebih
menyakitkan lagi, dia mencintaiku?
Belum selesai kesedihanku, aku lirik lagi meja itu. Ada sebuah bingkai
foto. Foto dua insan yang aku pikir akan berhasil menyelesaikan cerita Tuhan
ini dengan bahagia. Dan di sebelahnya ada secangkir teh, dan biskuit cokelat
bertabur kismis kesukaanku.
Daun-daun di luar yang berguguran hanya menatapku dalam diam. Angin
senja yang sedari tadi mondar-mandir juga tak menampakan reaksinya. Lantai kayu
tempatku berpijak sedikit bergetar meski tak mampu menumbangkan kedai tehnya.
Atau kakiku yang bergetar? Kedai teh sore itu kosong. Sepi.
Ini perpisahan paling menyakitkan. Tanpa pelukan, tanpa ciuman.
Jangan sebut Paris kota romantis, kota cinta. Ialah Paris kota yang
membawa luka.
Telepon genggamku berdering tanda ada pesan masuk. Aku raih benda yang
sempat terjatuh itu. Aku buka pesannya.
Eleanor, mungkin kamu sering
bertanya-tanya permainan apa yang sedang aku lakukan. Aku tak tahu kamu masih
menunggu atau sudah menyerah.
Kisah tak selalu indah, Eleanor.
Tak pernah terduga. Buktinya, pertemuan murahan di stasiun kereta itu bisa
membawa kita sampai di sini. Kadang, kita tak menyadari bahwa harus ada sepasang
malaikat yang memang ditakdirkan untuk bersama di dunia. Namun ada juga yang
tidak. Sepasang malaikat itu akan bersama di surga.
Aku menangis sejadi-jadinya. Untuk kedua kalinya aku mengatakan Paris
bukan kota romantis. Ialah Paris kota yang membawa luka.