Senin, 23 Desember 2013

Karena Kamu, Tidak Terkecuali

Posted By Ainoire di 06.29 0 komentar

Kusampaikan dalam ribuan kata tentang kita yang terlalu lama dalam jeda. Merekat dalam suatu kertas yang tak boleh kandas. Membentuk suatu keping hati yang sempat terberai karena derai. Menyemat seperti api yang membakar, namun sengaja memberi waktu untuk dipadamkan.

Seperti cerita dalam novel, kau dan aku adalah karakter yang dikendalikan Sang Narator. Dibuatnya kita jatuh cinta, didorongnya kita untuk saling mengumbar rasa sayang.  Kau bertanya, aku mengangguk, lalu kita berjalan. Untuk beberapa waktu lamanya, semuanya terasa tak bercela. Kau dan aku yakin akan selalu bersama selamanya.

Hingga suatu saat, pasti terbitlah masalah. Namun jangan pernah sampai menggoyahkanmu, ya. Jangan mau menyerah. Meski awal memang selalu indah, aku tau pasti akan ada saat di mana kita harus bersusah payah. Aku ingin awal kisah yang bahagia dengan akhir yang bahagia juga. Mmm...tidak. Kisah ini tidak memiliki akhir, karena kisah ini akan berjalan selamanya.

Setiap tempat yang kita pijak akan selalu menjadi istana. Karena kamu, Pangeran Waktu. Detik bersamamu singgasanaku.

Mataku butuh cahaya, tetapi lebih butuh matamu. Telingaku butuh suara, tetapi lebih butuh gelak tawamu.

Diamlah di situ. Kelak aku akan menghampirimu. Membacakan lembar demi lembar, hari kita yang tak akan pernah hambar.
Diamlah di situ. Kelak jika mereka bertanya, katakan kau punya seribu waktu untuk menunggu. Tak tersentuh ragu.
Diamlah di situ. Kelak aku akan berlutut dan meminta. Menjadi satu-satunya yang memastikan kau bahagia selamanya.

Jika kamu pernah menyimpan luka, berikan padaku. Aku akan menyimpannya di sepanjang jejak yang kutinggalkan.
Jika kamu pernah menyimpan takut, berikan padaku. Aku akan menyimpannya di sepanjang nafas yang kuhembuskan.

Kau tahu? Bahkan dalam lelah, aku mencintaimu begitu besarnya. Karena mencintaimu membuatku lengah. Lupa dari apa yang seharusnya membuatku bahagia.

Tanpamu, pertunjukkan senja di panggung langit ialah sepi. Aku, tetap sendiri di samping bangku kosong di barisan paling depan.

Di sini, hujan menemaniku. Dengan rintiknya, dia berseru agar aku selalu bisa berteduh di matamu.
Di sini, rindumu telah menembus nadiku. Kini ia berlayar tepat di jantungku.
Di sini, aku selalu menulis namamu. Tak hanya di kaca lembab yang aku jumpa. Kutulis namamu di papan langit sepanjang waktu yang aku punya.

Sayang, berdoalah. Semoga metamorfosa cinta ini tak setragis legenda Cleopatra. Jangan biarkan air mataku jatuh sia-sia.

Aku tidak ingin kehilangan. Baiklah, aku akui sekarang, aku takut. Ketakutan setengah mati. Takut pada ketidakpastian, dan cerita di halaman berikutnya. Kau terlalu berharga untuk kubiarkan pergi.

Padamu aku menetapkan rasa. Padaku sulit menyangkalnya lebih lama. Dalam setiap doa, aku mengekalkan kita.

Oh ya, barangkali aku lupa mengucapkan hal sederhana yang penting. Terimakasih ya, atas segalanya. Pernah ada yang mengatakan, hidup ini adalah film terbaik. Dan bersamamu adalah scene yang tak akan pernah bosan aku memutarnya.

Seperti kata Sapardi;
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Karena kamu, tidak terkecuali. :)

Di antara rinai hujan, 22 Desember 2013

Di Paris Aku Menangis

Posted By Ainoire di 02.41 0 komentar
Paris kala itu musim gugur. Bersamaan dengan gugurnya angan cintaku padanya yang telah lama digantungkan. Harmonis meski miris. Dia menghilang begitu saja. Hanya sepucuk surat usang yang hingga hari ini masih aku simpan. Ucapan selamat tinggal yang sangat menyakitkan. Lipatan sana-sini yang hampir koyak. Tintanya juga sudah hampir luntur. Wajar saja umurnya sudah satu lustrum dan sering aku buka tutup untuk membacanya tanpa rasa jemu. Paling-paling akhirnya aku menangis tersedu-sedu. 

Bukan tentang dirinya saja. Ini tentang kenangan yang sulit dilupakan. Di mana kami bermain petak umpet, membeli lolipop extra besar, meniup terompet tahun baru, dan masih banyak lagi. Kenangan manis yang berubah pahit, hanya karena sebuah kejadian.


Kuawali pagi ini dengan sederhana. Aku seruput secangkir teh di depanku, disusul sepotong biskuit cokelat bertabur kismis kesukaanku. Tak lupa kuhidupkan radio tua pemberian nenek yang sedang mengkumandangkan lagu-lagu klasik ala Perancis.

Aku membuka jendela, mencoba menghirup hangatnya matahari yang masih muncul sepertiga. Wangi pagi ini membahagiakan, dan semoga udara pagi ini mampu membawa kabur kesakitanku. Kesakitan Mahacinta pada masa lalu.

Telepon genggamku berdering. Aku sedang terbuai dengan indahnya pagi, sehingga memaksa benda persegi panjang putih itu untuk berdering lebih dari sekali. Akhirnya pagi pun kalah. Aku berhasil tergoda menggapainya. Ternyata nomor tak dikenal. Sejenak dua jenak berpikir, akhirnya aku angkat telepon itu.
“Eleanor….”,  suara dari seberang sana seketika membuatku bergeming.
Tanganku bergetar. Belum sempat kumenjawab, telepon genggam itu sudah jatuh terlebih dahulu.


Di stasiun kereta, kali pertama kita bersua. Gerbong nomor tiga. Jack mengenakan kemeja putih yang tampak serasi dengan jeans denimnya. Langkah kakinya tidak terdengar karena tenggelam oleh keramaian. Namun, aku dapat merasakan langkahnya begitu tegas menuju ke arahku.

Aku lirik lelaki tampan yang duduk di sebelahku. Aku pura-pura cuek yang kuakali dengan tingkah membaca buku sembari mengenakan headset.

“Nona….” suaranya begitu dalam untuk merayuku menatap wajahnya.

tatap Ia dengan angkuh. Angkuh seangkuh-angkuhnya melebihi ratu jahat pada dongeng Rapunzel.

“Boleh aku meminjam pulpen?” lelaki itu ternyata tidak jera dengan perlakuanku padanya.

Aku berikan pulpen ungu kepadanya. Tanpa sepatah kata pun.

Ting tong ting tong. Stasiun tiga. Silakan keluar dalam lima menit. Stasiun tiga. Silakan keluar dalam lima menit.


Empat puluh delapan jam setelah kejadian itu, aku bertemu dengannya lagi. Ketika aku sedang berjalan di trotoar, Dia menepuk pundakku dari belakang sembari menyodorkan pulpen ungu milikku.

“Ini, terima kasih.” Ucapannya singkat namun tetap terlihat ramah.

Aku tersenyum padanya. Ini pertama kalinya aku mau memberi sedikit komunikasi yang berarti padanya.

“Namaku Jack.”

“Aku Eleanor.” Kujawab dengan sedikit senyum dan tanda tanya sembari membalas sodoran jabat tangan dari Jack. Bagaimana Ia bisa menemukanku?

Entah ilmu hipnotis apa yang Ia gunakan. Ia berhasil menaklukan seorang wanita super judes yang sangat malas berurusan dengan seorang pria.

Jack membawaku ke sebuah kedai teh sederhana di pinggir kota. Kedai teh itu tampak sudah tua sekali. Lantai kayunya pun berderit saat kita melangkah. Semuanya terbuat dari kayu. Serba kayu kecuali sendok dan gelasnya.


Delapan bulan berlalu. Hubunganku dengan Jack semakin erat. Aku tau aku bukan siapa-siapa. Dan aku tau, Jack juga bukan siapa-siapa. Siapa sangka dua orang insan Tuhan yang tidak sengaja bertemu di stasiun kereta bisa bersama hingga sejauh ini?

Aku tak mengerti. Entah angin apa, atau sebab ulah dewa dan dewi amor yang sedang melaksanakan tugasnya, atau karena hormon-hormon di tubuhku yang sudah dewasa. Perasaanku terhadap Jack rasanya mulai aneh. Gugup saat didekapnya, namun itu menyenangkan. Rasanya aku ingin selalu kedinginan agar selalu dipeluknya. Rindu berlebihan juga sering muncul bila aku tidak bertemu dengan Jack sehari saja. Aku jadi berpikir yang tidak-tidak.

Ini sungguh bertolak belakang dengan kesan pertamaku bertemu dengannya. Aku acuh, angkuh, jutek, sombong, dan semacamnya. Tapi sekarang? Ah, mungkin Jack hanya menganggapku seorang wanita yang dikenalnya secara tidak sengaja, atau seorang adik yang haus kasih sayang.

“Hei Eleanor! Tidak baik wanita secantik kamu melamun di bawah Eiffel.” Jack mengagetkanku.

Dia mengambil sesuatu dari ranselnya. Sebuah kamera.

“Kamera? Aku tak pernah tahu kau suka mengambil gambar.” Alis kananku naik dan mataku memicing pada benda di genggaman Jack itu.

“Kamu benar. Tapi ini karena kamu. Eh, maksudku ini untuk kita mengambil gambar. Tidak lengkap rasanya sudah ke Eiffel tanpa didokumentasikan.” 


Sore tadi begitu berarti. Ia seorang pria yang pantas untuk dikagumi.  Aku rebah di tanah. Aku tatap sang bintang tanpa kedip, lalu aku ajak Ia bercerita.

Aku menemukan sebuah keputusan. Itu usul dari bintang. Aku akan mencoba menghindar dari Jack. Aku pikir dengan yang aku lakukan ini, aku bisa memanfaatkan waktuku untuk lebih menjelajah hatiku sendiri dan menemukan harta karunnya. Menyelam lebih dalam hingga syaraf-syarafku bisa menyalurkan rangsangnya ke otak untuk mengolah bagaimana perasaanku. Apakah ini tulus atau hanya obsesi remaja pubertas.
Antara yakin dan setengah yakin, aku mencintai Jack?


Seperti biasa, menu wajibku untuk membuka sebuah pagi. Secangkir teh aroma melati, biskuit cokelat bertabur kismis, dan sebuah radio tua yang menyanyikan lagu-lagu klasik. Tak lupa sebuah tambahan, sebuah surat dari Jack.

Dia biasa melakukan ini setiap pagi. Mengirim surat ke apartemenku untuk mengajakku pergi berjalan-jalan. Entah kenapa dia tidak pernah menanyakan tentang nomor telepon.

Tapi hari ini sepertinya akan aku ubah. Aku ingat keputusanku tadi malam. Aku harus menghindar.


Setelah pagi itu dan seterusnya aku tidak mengiyakan ajakannya, aku pikir Jack akan menemuiku di apartemen. Ternyata ramalanku meleset. Dia juga menjauh dan semakin menjauh dari diriku yang memang ingin menjauh.

Tiga minggu tanpanya adalah hampa. Hingga aku ingat tentang kedai teh di mana aku dan Jack pertama berkencan.

Tanpa basa-basi, aku melaju menuju kedai teh itu. Aku membayangkan, sesampainya di sana akan ada Jack yang tersenyum menyambutku. Atau mungkin Ia menyiapkan kejutan. Atau bahkan akan ada adegan suap-suapan laksana telenovela. Aku pikir aku terlalu berlebihan.

Aku telah sampai. Tapi di mana Jack? Nihil. Di sana tak ada siapa-siapa kecuali pelayan yang sedang menunggu pelanggan.

Langkahku membawaku pada sebuah meja kayu di pojok ruangan. Meja yang menjadi saksi bisu pertemuan tak terduga aku dan Jack kala itu. Kedua bola mataku sudah tidak bergairah untuk mencari di mana Jack. Mereka lebih tertarik melihat sepucuk surat biru muda yang tergeletak di atas meja.

Aku ambil surat itu. Aku setengah yakin surat itu memang untukku. Tapi aku sudah terlanjur dikuasai rasa penasaran. Aku membuka suratnya.

Eleanor,
Maaf. Maaf. Maaf.
Aku sangat menyesal ketika kau mengabaikan ajakanku pagi itu. Padahal aku berpikir agar aku bisa membuatmu bahagia untuk terakhir kalinya.
Inti surat ini hanya permohonan maafku padamu. Aku harus pergi. Memang pernyataan yang berat. Namun ini harus aku lakukan. Aku harus pergi Eleanor. Harus pergi.
Dan mungkin tidak akan kembali. Tapi aku akan selalu ada di hatimu. Mencintaimu.
Maaf. Maaf. Maaf.
                                                                                                                                                                                Jack David Bolt

Hatiku lumer. Air mataku langsung merembes. Dadaku sesak. Terpaku di sudut kedai teh di senja musim gugur yang menyedihkan. Senja perpisahan. Wanita mana yang tidak sakit hati lelaki pujaannya hilang selamanya, dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang isinya sama sekali tidak memuaskan? Pergi untuk apa? Mengapa Jack tidak menjelaskan? Dan lebih menyakitkan lagi, dia mencintaiku?

Belum selesai kesedihanku, aku lirik lagi meja itu. Ada sebuah bingkai foto. Foto dua insan yang aku pikir akan berhasil menyelesaikan cerita Tuhan ini dengan bahagia. Dan di sebelahnya ada secangkir teh, dan biskuit cokelat bertabur kismis kesukaanku.

Daun-daun di luar yang berguguran hanya menatapku dalam diam. Angin senja yang sedari tadi mondar-mandir juga tak menampakan reaksinya. Lantai kayu tempatku berpijak sedikit bergetar meski tak mampu menumbangkan kedai tehnya. Atau kakiku yang bergetar? Kedai teh sore itu kosong. Sepi.

Ini perpisahan paling menyakitkan. Tanpa pelukan, tanpa ciuman.

Jangan sebut Paris kota romantis, kota cinta. Ialah Paris kota yang membawa luka.


Telepon genggamku berdering tanda ada pesan masuk. Aku raih benda yang sempat terjatuh itu. Aku buka pesannya.

Eleanor, mungkin kamu sering bertanya-tanya permainan apa yang sedang aku lakukan. Aku tak tahu kamu masih menunggu atau sudah menyerah.
Kisah tak selalu indah, Eleanor. Tak pernah terduga. Buktinya, pertemuan murahan di stasiun kereta itu bisa membawa kita sampai di sini. Kadang, kita tak menyadari bahwa harus ada sepasang malaikat yang memang ditakdirkan untuk bersama di dunia. Namun ada juga yang tidak. Sepasang malaikat itu akan bersama di surga.

Aku menangis sejadi-jadinya. Untuk kedua kalinya aku mengatakan Paris bukan kota romantis. Ialah Paris kota yang membawa luka.

Narasi Secangkir Kopi

Posted By Ainoire di 02.14 0 komentar
Aku menulis ini dalam sebuah kenyamanan; kamar kecil di lantai dua dengan cat tembok pink dan biru. Ditemani kesunyian sang kegelapan. Aungan motor terdengar jarang. Malam sudah tinggi. Lampu jalan membiaskan bayang rumah penduduk; mengalahkan sepasang kunang-kunang yang berkedip sendirian.

Aku menggapai cangkir di sudut jendela sampai aku sadar kopiku hampir habis. Setengah malas beranjak, aku berjalan turun menyusuri tangga; menuruni kenangan meninggalkan masa depan ke lantai satu. Aku berniat membuangnya. Tidak, aku tidak mau melakukannya. Kenangan harus menjadi kenangan. Meski warnanya hitam, wanginya selalu berwarna.

Aku buat lagi kopiku. Aku suka kopi yang tidak terlalu manis; wanginya saja sudah membuatku hanyut pada pahitnya. Kenangan bersamanya indah, namun tak akan indah jika dikaitkan dengan kenyataan hari ini. Kamu, seseorang pada masa kecilku. Momen terakhir yang aku ingat adalah ketika harimu bertambah usia. Entah yang keberapa. Sepertinya aku juga lupa kapan harimu itu.

Setiap hari aku berusaha berkali-kali untuk pura-pura lupa. Tapi kamu tak pernah membawaku pada amnesia. Ya, aku masih saja ingat hari ulangtahunmu itu. Aku mengunjungi rumahmu bersama orang tuaku. Waktu aku tiba, kamu belum berdandan. Kamu masih berada di kolam dalam rumahmu yang mungkin dalamnya tidak mencapai semeter. Aku menghampiri di mulut kolam dan kita bertukar tawa.

Aku jadi lupa tentang kopiku. Aku aduk hingga hitamnya merata. Lalu kenangan lain terlihat di dalam pusaran airnya. Setelah kita berbeda kota, kita seperti sudah lupa. Aku dan kamu tidak pernah bertukar kabar. Hingga pada suatu waktu aku berani menulis surat. Aku menulis tentang banyak hal sebagai upah kerinduanku. Tak lupa kutuliskan nomorku. Kamu menerima tulisanku. Kamu tak membalas. Ternyata kamu mengirimiku pesan singkat. Aku bahagia. Sebahagia kupu-kupu yang menjumpai sepasang bunga.

Malam makin larut, kopi yang kubuat mulai mendingin. Lalu aku kembali terpaksa untuk mengenang cerita lama itu. Dadaku  sesak. Tenggorokanku tercekat. Aku tak bisa mengatur hela nafasku.  Aku bergegas menaiki tangga menuju kenyamananku. Aku duduk. Seteguk dua teguk kopi mulai menenangkanku. Pada pesan singkatmu: "aku ingin kamu segera mengetahuinya. Cuma tiga kata, kok. Kamu pasti sudah taulah karena ini klise. Kamu berharga." Aku tersenyum namun juga menangis. Jangan salah, ini bukan air mata kebahagiaan. Ini tentang kenyataan menyakitkan. Aku ingin namun takdir  kita telah berbeda. Hmm...aku lupa kejadian setelah itu. Nampaknya aku setengah berhasil amnesia.

Kehilangan jejakmu tidak membuatku diam. Aku selalu mencarimu. Di sela nafasku, dalam mimpiku, di setiap helai sedihku, di setiap jejak yang kutinggalkan, semuanya. Karena di dalam aku, ada harap yang tak kunjung jera. Ia bernama cinta. Aku yakin, akan ada hari di mana aku bisa mendengar kabarmu lagi. Sampai akhirnya aku menemukan titik cerah. Aku ragu untuk memulainya lagi. Namun jika tidak, jerih payah menunggumu selama ini akan sia-sia. Hingga akhirnya aku berhasil mengawalinya.

Sayangnya kamu berubah. Kamu bukan kamu yang dulu lagi. Sepertinya perasaanmu tak lagi sama. Mungkin perjuangan ini hanya aku lakukan sendiri. Tapi aku tak memaksamu untuk merasakan yang kurasakan. Bukan salahmu jika ketika aku datang, cinta itu ternyata tak pernah ada. Bahkan aku juga tidak tahu bagaimana sekarang kamu tertawa, bercerita, bernyanyi,  dan bermain musik. Pada intinya, aku hidup dalam rasa penasaran. Aku ini rindu. Masihkah mungkin kita bertatap muka? Setelah ini aku jadi sadar. Kebahagiaan menjadi begitu sederhana. Saat aku sekadar melihatmu untuk kali pertama, kedua, dan seterusnya.

Aku rebah di peraduan. Kutarik selimutku sampai dada. Jarum jam memperingatkanku bahwa fajar hampir menang. Aku tertidur, aku bermimpi. Saat rinduku tidak sanggup membisikimu, mohon buka jendelamu. Aku telah titipkan senyumku pada rembulan dan rinduku pada angin malam. Bila malammu tak berbulan, aku telah lupa. Temui aku langsung, di dalam mimpi kita. Tapi apa ini tak sia-sia? Apa aku tidak bodoh? Mencintaimu membuatku lengah; lupa dari apa yang seharusnya membuatku bahagia.

Biarkan narasi ini menemukan takdirnya sendiri. Biarkan narasi ini pulang ke rumahnya sendiri. Ketika narasi ini sampai kepadamu. :)

Kota dingin, 13 Oktober 2013
 

Aksara dari Pena Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos