Ada seorang
perempuan yang tinggal di cermin dalam kamarku. Aku tak tahu pasti dia
benar-benar ada atau tidak. Kau tahu, aku jarang bercermin. Dia tak memiliki
poni. Rambutnya lurus dan hitam
sepanjang bahu. Dia sering memainkannya. Matanya yang
tak putih bersih terus menatap ke arahku. Bisa kulihat bangkai-bangkai air mata
di dalamnya. Saat dia berkedip, sehelai bulu matanya jatuh di pipi. Sepertinya
ada yang merindukannya.
Tak pernah ada
yang tahu, mengapa ada bangkai-bangkai air mata itu, kecuali dirinya dan orang
yang pernah menatap matanya dalam-dalam. Aku, salah satunya.
Sinar matanya
akhir-akhir ini redup. Tak seperti dahulu yang nampak binar dalam matanya saat dia jatuh cinta. Ya, perempuan itu pernah jatuh cinta dan sekarang sedang patah
hati.
Aku pernah
melihatnya tersenyum. Mungkin itu yang pertama sekaligus yang terakhir. Dia tak
pernah membuka mulutnya. Namun, aku tahu dia tidak bisu. Dia selalu berbicara
lewat mata. Matanya selalu menatap lurus dan tak pernah terpejam. Mungkin dia
suka berada di situ karena setiap kali dia memejamkan matanya, mataku pun ikut
terpejam dan ketika aku membuka mataku, perempuan itu menghilang.
Hari-hari
berikutnya, ketika aku berkaca, dia tidak pernah muncul lagi; mungkin untuk
selamanya. Aku tidak merindukannya. Aku hanya penasaran apa yang perempuan itu
lakukan di dalam cerminku. Apakah dia hanya ingin menunjukkan kesedihannya,
sehingga ia merasa lebih baik? Atau justru dia adalah refleksi dari kesedihanku
sendiri?


0 komentar:
Posting Komentar