Minggu, 31 Juli 2016

Perempuan dalam Cermin

Posted By Ainoire di 03.28 0 komentar
Ada seorang perempuan yang tinggal di cermin dalam kamarku. Aku tak tahu pasti dia benar-benar ada atau tidak. Kau tahu, aku jarang bercermin. Dia tak memiliki poni. Rambutnya lurus dan hitam sepanjang bahu. Dia sering memainkannya. Matanya yang tak putih bersih terus menatap ke arahku. Bisa kulihat bangkai-bangkai air mata di dalamnya. Saat dia berkedip, sehelai bulu matanya jatuh di pipi. Sepertinya ada yang merindukannya.

Tak pernah ada yang tahu, mengapa ada bangkai-bangkai air mata itu, kecuali dirinya dan orang yang pernah menatap matanya dalam-dalam. Aku, salah satunya.

Sinar matanya akhir-akhir ini redup. Tak seperti dahulu yang nampak binar dalam matanya saat dia jatuh cinta. Ya, perempuan itu pernah jatuh cinta dan sekarang sedang patah hati.

Aku pernah melihatnya tersenyum. Mungkin itu yang pertama sekaligus yang terakhir. Dia tak pernah membuka mulutnya. Namun, aku tahu dia tidak bisu. Dia selalu berbicara lewat mata. Matanya selalu menatap lurus dan tak pernah terpejam. Mungkin dia suka berada di situ karena setiap kali dia memejamkan matanya, mataku pun ikut terpejam dan ketika aku membuka mataku, perempuan itu menghilang.

Hari-hari berikutnya, ketika aku berkaca, dia tidak pernah muncul lagi; mungkin untuk selamanya. Aku tidak merindukannya. Aku hanya penasaran apa yang perempuan itu lakukan di dalam cerminku. Apakah dia hanya ingin menunjukkan kesedihannya, sehingga ia merasa lebih baik? Atau justru dia adalah refleksi dari kesedihanku sendiri?

Selasa, 08 Maret 2016

Diam-diam Mati

Posted By Ainoire di 18.46 0 komentar
Menjadi terganti bukan hal yang mudah. Aku diam saja, namun ingin meledak. Aku berpura-pura tak ada apa-apa, namun pikiranku jadi kacau luar biasa. Tuan, aku ingin mati saja.

Aku tak akan menyalahkanmu. Kamu tahu kan bahwa cinta itu tak pernah salah? Aku pun tak akan menyalahkan diriku yang terlalu berani menusuk duri. Tapi Tuan, jangan menyesal dan merasa bersalah jika aku sudah menyerah. Sekali lagi, cinta tak ada yang salah.

Aku biarkan mengalir seperti biasanya biar hatimu tak terluka. Biar aku saja dan kamu jangan. Aku tak akan menyakitimu meski aku berhak. Biarlah semesta yang menjalankan takdirnya. Maka luka ini kusimpan rapi dan kututup rapat-rapat. Kamu tak boleh tahu. Mungkin suatu saat akan ada saat di mana kamu menemukan kuncinya, lalu membukanya dan merasakannya sendiri.

Aku dan kamu tak punya senja lagi. Senjaku telah habis kau rayakan bersamanya. Aku tak akan menuntut untuk dikembalikan. Aku hanya berpesan agar kamu tak menghabiskannya untuk orang yang salah. Karena itu senjaku satu-satunya. Senja yang terakhir. Hanya satu dan tak akan ada senja yang lain lagi.

Aku tak bernyanyi lagi. Nadaku sudah sumbang sekarang. Tak ada suara lagi. Yang ada hanya nada yang keluar bersama air mata. Sama sumbangnya. Tapi jika kamu meminta, aku tidak keberatan. Aku akan berusaha menemukan nadaku kembali tanpa kau dengar sumbang.

Aku bukan kekasih yang baik untuk kamu, tapi aku sungguh mencintaimu dengan sebaik-baiknya. Dan kamu adalah kekasih yang baik. Biarkan semua orang tahu itu.

Tuan, aku ingin mati, lalu menghilang. Toh, nyatanya aku tak pernah ada.


Dini hari menjelang gerhana, 9 Maret 2016.
 

Aksara dari Pena Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos