Untuk Egimhz, lelaki malang yang
menuliskan kesedihan.
Ada yang selalu aku ingat pada
secangkir kopi. Bukan rasa pahitnya, tetapi kau, lelaki yang selalu memesan
kopi hitam atau menyeduhnya sendiri. Kau tak pernah membiarkan detikmu hilang
tanpa menjumpai cangkir kopi yang terisi. Sepertinya ada yang kau kekalkan di
dalamnya atau itu caramu untuk menenggelamkan luka? Entahlah. Hanya kau yang
tahu dan sepertinya kita perlu berterima kasih pada secangkir dua cangkir kopi
yang sering mempertemukan kita di satu meja; cangkir-cangkir kopi yang selalu
diseduh dengan luka.
Ada yang selalu aku ingat pada
sebatang rokok. Kau, lelaki yang selalu mengisapnya dalam-dalam dan
menghembuskannya dengan ringan. Asapnya mengepul di udara, berkelana di
semesta, meliuk-liuk mencari abu dari puntung-puntung rokok yang kau biarkan
menumpuk di atas asbak. Kau selalu menyulutnya kembali ketika rokokmu tak lagi
menghasilkan asap. Bahkan kau tak perlu waktu lama untuk menghabiskan satu
bungkusnya. Entah sudah berapa puntung rokok yang kau nikmati selama ini. Aku
tak bisa membayangkannya. Padahal kau tahu, aku tidak menyukai asap rokokmu.
Namun, ada satu hal yang menarik. Asap putih yang selalu keluar dari bibirmu
itu seperti membawa pertanda, yaitu sebuah rasa lega yang sengaja lama kau
penjara. Maka dari itu, untuk kesekian kalinya, aku membiarkanmu
menghembuskannya.
Ada yang selalu aku ingat pada
sebuah gitar. Kau, lelaki yang jemarinya memetik-metik mengalunkan sebuah
musik. Yang mengiringi lantun suaraku tentang nyanyian malam, menemani laguku
yang nadanya ke mana-mana. Aku menyukai petikan gitarmu yang tak hanya
mengiringiku, tetapi juga mengiringi ingatan-ingatan buas yang lepas dari
kertas. Mengiringi puisi-puisi yang kau buat sendiri dengan melodi
menghanyutkan yang sama menenggelamkannya dengan suaramu. Menggemuruhkan
sajak-sajak resah yang kau buat dengan gelisah.
Ada yang selalu aku ingat pada
sebuah malam. Kau, lelaki yang memelihara kantung mata, pecandu kegelapan. Kau
tak perlu menyalakan lampu karena matamu adalah obor malammu. Matamu selalu tersorot
tajam, mengisyaratkan kaulah pembangkang kehidupan. Kau sering berbagi cahaya
denganku karena aku juga tak jauh beda darimu; kita sama-sama lahir dari
kegelapan. Malam adalah waktu kita mengadakan perayaan-perayaan kecil tentang
apa saja. Perayaan yang tak pernah usai berisi percakapan-percakapan yang
kehilangan cahaya. Bertukar pikiran-pikiran liar yang jauh dari nalar. Jika aku
boleh mencuri, aku akan mencuri kesepian-kesepianmu agar tak ada lagi sepi yang
bersemayam di malam matamu. Kau tak perlu cemas karena aku dan malam akan
selalu mengiringi mimpi yang kau singgahi. Membantu kau menyalakan puisi di
sudut-sudut jalan ingatan dan memintal kenangan yang pada akhirnya kau jadikan
permadani kesedihan.
Ada yang selalu aku ingat saat
melihat hujan. Bukan Hujan Bulan Juni-nya
Sapardi, melainkan kau, lelaki yang tak pernah kedinginan menatap langit yang
menangis, kau yang selalu menangkap hujan untuk dijadikan puisi. Hujan bagimu
tak pernah jadi badai. Bahkan kau lupa bahwa badai sesungguhnya ada dalam
dirimu. Dan aku tahu, kau memang membiarkannya untuk tak pernah reda.
Iya. Ada yang selalu aku ingat
pada hal-hal kecil yang menjadi kawan setiamu. Dan memang ada yang tak pernah
aku lupa. Ada.
29 Mei 2015
Terima kasih untuk sajak-sajak dari 2958 mdpl.


0 komentar:
Posting Komentar