Kamis, 04 Juni 2015

Ada yang Selalu Aku Ingat

Posted By Ainoire di 07.07
Untuk Egimhz, lelaki malang yang menuliskan kesedihan.

Ada yang selalu aku ingat pada secangkir kopi. Bukan rasa pahitnya, tetapi kau, lelaki yang selalu memesan kopi hitam atau menyeduhnya sendiri. Kau tak pernah membiarkan detikmu hilang tanpa menjumpai cangkir kopi yang terisi. Sepertinya ada yang kau kekalkan di dalamnya atau itu caramu untuk menenggelamkan luka? Entahlah. Hanya kau yang tahu dan sepertinya kita perlu berterima kasih pada secangkir dua cangkir kopi yang sering mempertemukan kita di satu meja; cangkir-cangkir kopi yang selalu diseduh dengan luka.

Ada yang selalu aku ingat pada sebatang rokok. Kau, lelaki yang selalu mengisapnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan ringan. Asapnya mengepul di udara, berkelana di semesta, meliuk-liuk mencari abu dari puntung-puntung rokok yang kau biarkan menumpuk di atas asbak. Kau selalu menyulutnya kembali ketika rokokmu tak lagi menghasilkan asap. Bahkan kau tak perlu waktu lama untuk menghabiskan satu bungkusnya. Entah sudah berapa puntung rokok yang kau nikmati selama ini. Aku tak bisa membayangkannya. Padahal kau tahu, aku tidak menyukai asap rokokmu. Namun, ada satu hal yang menarik. Asap putih yang selalu keluar dari bibirmu itu seperti membawa pertanda, yaitu sebuah rasa lega yang sengaja lama kau penjara. Maka dari itu, untuk kesekian kalinya, aku membiarkanmu menghembuskannya.

Ada yang selalu aku ingat pada sebuah gitar. Kau, lelaki yang jemarinya memetik-metik mengalunkan sebuah musik. Yang mengiringi lantun suaraku tentang nyanyian malam, menemani laguku yang nadanya ke mana-mana. Aku menyukai petikan gitarmu yang tak hanya mengiringiku, tetapi juga mengiringi ingatan-ingatan buas yang lepas dari kertas. Mengiringi puisi-puisi yang kau buat sendiri dengan melodi menghanyutkan yang sama menenggelamkannya dengan suaramu. Menggemuruhkan sajak-sajak resah yang kau buat dengan gelisah.

Ada yang selalu aku ingat pada sebuah malam. Kau, lelaki yang memelihara kantung mata, pecandu kegelapan. Kau tak perlu menyalakan lampu karena matamu adalah obor malammu. Matamu selalu tersorot tajam, mengisyaratkan kaulah pembangkang kehidupan. Kau sering berbagi cahaya denganku karena aku juga tak jauh beda darimu; kita sama-sama lahir dari kegelapan. Malam adalah waktu kita mengadakan perayaan-perayaan kecil tentang apa saja. Perayaan yang tak pernah usai berisi percakapan-percakapan yang kehilangan cahaya. Bertukar pikiran-pikiran liar yang jauh dari nalar. Jika aku boleh mencuri, aku akan mencuri kesepian-kesepianmu agar tak ada lagi sepi yang bersemayam di malam matamu. Kau tak perlu cemas karena aku dan malam akan selalu mengiringi mimpi yang kau singgahi. Membantu kau menyalakan puisi di sudut-sudut jalan ingatan dan memintal kenangan yang pada akhirnya kau jadikan permadani kesedihan.

Ada yang selalu aku ingat saat melihat hujan. Bukan Hujan Bulan Juni-nya Sapardi, melainkan kau, lelaki yang tak pernah kedinginan menatap langit yang menangis, kau yang selalu menangkap hujan untuk dijadikan puisi. Hujan bagimu tak pernah jadi badai. Bahkan kau lupa bahwa badai sesungguhnya ada dalam dirimu. Dan aku tahu, kau memang membiarkannya untuk tak pernah reda.

Iya. Ada yang selalu aku ingat pada hal-hal kecil yang menjadi kawan setiamu. Dan memang ada yang tak pernah aku lupa. Ada.

29 Mei 2015
Terima kasih untuk sajak-sajak dari 2958 mdpl.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Aksara dari Pena Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos