Senin, 13 Januari 2014

Tak Seindah Senja

Posted By Ainoire di 03.15 0 komentar

Senja hampir habis. Kereta yang kutunggu tak kunjung datang....
Angin sore bersiul berbisik ke telinga. Membelai rambut panjangku, menggelitik dedaunan kering, mengajaknya untuk berlarian. Aku mulai kedinginan. Syal kesayanganku tertinggal. Aku hanya duduk menunggu entah siapa. Kopor yang kubawa kubiarkan sendiri di antara cahaya senja yang temaram. Aku masih terdiam.

Senja hampir habis. Kereta yang kutunggu tak kunjung datang....
Kupejamkan mata, aku hirup harum indah senja di stasiun kereta. Harumnya melewati lubang hidungku, lalu masuk hingga ke paru-paru. Dadaku terasa lebih lega. Aku menjadi lebih tenang. Lalu aku membuka mata, melihat kenyataan bahwa senja yang indah bisa saja membawa musibah. Kupejamkan mataku sekali lagi, lalu air mataku merangkak perlahan di atas pipiku. Dadaku sesak.

Senja hampir habis. Kereta yang kutunggu tak kunjung datang....
Aku beranjak. Aku berjalan perlahan. Aku berjalan, sedang mencari. Mencari entah siapa yang pernah hilang. Dia pernah datang, namun terlalu cepat berlalu.

Senja hampir habis. Kereta yang kutunggu tak kunjung datang....
Senja ini penuh kenangan. Waktu itu, senja pertamaku. Waktu itu, aku masih bisa tersenyum. Waktu itu, aku selalu merasa hangat. Waktu itu, aku tidak pernah merasa sendiri. Waktu itu, aku masih bisa berlari. Waktu itu, aku selalu merasa kuat. Waktu itu, detik terasa cepat berlalu. Waktu itu, ada dia, Si Entah Siapa.

Senja hampir habis. Kereta yang kutunggu tak kunjung datang....
Senja begitu cepat menjadi kelam. Mungkin dia juga sedang berduka. Kehilangan Sang Fajar yang dicintainya. Ia dipisahkan oleh Sang Malam. Mereka tidak pernah bertemu, namun saling mengasihi.

Senja hampir habis. Kereta yang kutunggu tak kunjung datang....
Aku menunggu keretaku. Lalu aku terpejam. Aku benar-benar kehilangan.

Stasiun Kereta, 10 Januari 2014
 

Aksara dari Pena Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos