Minggu, 01 Januari 2017

Bacalah kalau Kau Punya Waktu

Posted By Ainoire di 04.56 0 komentar
Selamat malam, Huruf Pertama. Surat ini kutulis dalam malam yang sunyi tanpa gerimis. Apa kabarmu? Di sini dingin sekali. Angin terus berlari membawa kabar yang tak pasti dan aku baik-baik saja, jika kau ingin tahu.
Baiklah, ini surat pertama. Aku tidak berjanji akan ada yang kedua, ketiga, atau seterusnya. Namun kuharap, penerimanya akan selalu sama.

Dengan seluruh kekaguman, surat ini aku kirimkan. Kau cukup tersenyum dan membuatku terkagum. Kau tak perlu menjadi pria seperti di drama-drama televisi, sesederhana itu kau telah berhasil memikat hati. Kau berbeda dan apa adanya. Kau terlalu magis dalam sebuah kesederhanaan.

Aku menulis surat ini dari desakan rasa yang menyenggol ruang kepala. Kita sering menyebutnya rindu. Entah berapa juta detik lalu, mata kita pernah beradu dan aku merekam gambaranmu dalam retinaku. Jarak memang pendesak. Hingga kau alami irama sesak. Itu pertanda bahwa rindu telah beranak pinak. Aku selalu menunggu dan hanya membisu. Meski terkadang menunggu tak seinci pun menyeret kita untuk bertemu di titik rindu. Tapi, ah, adakah yang lebih indah dari jiwa yang menunggu? Yang tak saling menyapa, tapi diam-diam mengucap nama dalam doa?

Untuk lelaki yang tak perlu kusebut namanya, aku hanya ingin kau tahu. Akhir-akhir ini ada yang memiliki kebiasaan baru; aku. Memikirkanmu. Itulah pengisi waktuku. Kau tahu, aku belum bisa terlelap sebelum pukul satu. Seluruh malam tanpa terkecuali adalah waktu di mana kau menjadi benar-benar ada, tepat di sisi mimpiku. Segala tentangmu menjadi sentimentil. Aku terlalu takut pada sebuah ketiadaan. Sementara rasaku terus menebal dan semakin pikiranku berlomba untuk menyangkal takut-takut kaulah yang nantinya tinggal dengan kekal. Aku tak terlalu peduli apa kau juga merasakannya: rasa sakit  yang mendera, rasa cemas yang tak biasa, juga rasa takut kehilangan yang bukan sembarangan.

Sudah lebih tiga ratus enam puluh lima hari kita bersama. Hingga hari-hari yang sedang kita jalani akhirnya menjadi sebuah kesedihan juga. Aku sempat menyimpanmu sebagai kebahagiaan dan aku merindukannya kembali. Senyumanmu kini berubah. Tatapanmu juga. Debar yang kau rasa saat bertemu aku lenyap. Pelukmu tak ada artinya lagi karena kau memelukku dengan cara yang sama seperti kau memeluk perempuan-perempuan lain yang tak perlu aku sebutkan. Semua itu membuatku pilu. Aku cemburu dan kau selalu begitu. Aku melihat itu semua dan berpura-pura aku tidak mengetahuinya. Aku selalu menutupi kesedihanku karena jika kau tahu, kau pasti membenciku. Tapi jika kau ingin menengok, sekarang hatiku penuh lebam biru. Jika kau punya hati, semestinya tanpa aku mengemis seperti ini, kau sudah tahu apa saja hal-hal yang seharusnya. Aku merindukan kita.

Barangkali aku bukan kekasih yang baik. Sebagaimana hidup yang tak selalu berjalan baik. Kadang jiwa kita tenang tenteram, kadang kita menjalani malam-malam penuh kekhawatiran. Aku jarang mengingatkanmu makan, menanyakan harimu, memberi kejutan di hari ulang tahun, atau bercerita tentang apa saja. Aku juga bukan perempuan romantis yang memberi kata-kata puitis. Aku hanya bisa menuliskanmu dalam surat ini, surat yang berisi kata-kata tak bersuara. Aku hanyalah perempuan pecinta hujan dan penikmat senja. Perempuan dengan hati rapuh yang selalu banjir air mata. Perempuan pagimu yang selalu ingin menerima cintamu sebelum pagi diterbitkan. Perempuan yang membuatmu muak dengan yang ia sebut-sebut cinta.

Tidak perlu khawatir setelah membaca surat ini, kau tidak perlu berpikir bagaimana membalasnya. Bisa kutebak kau sudah bosan membacanya. Makilah aku, bencilah aku, jika memang cintamu habis sudah. Maafku atas segala ucapanku yang itu-itu saja. Yang terpenting kau baik-baik saja.


Ditulis di kota kelahiran sebelum malam tahun baru.
 

Aksara dari Pena Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos