Selamat
malam, Huruf Pertama. Surat ini kutulis dalam malam yang sunyi tanpa gerimis. Apa
kabarmu? Di sini dingin sekali. Angin terus berlari membawa kabar yang tak
pasti dan aku baik-baik saja, jika kau ingin tahu.
Baiklah, ini
surat pertama. Aku tidak berjanji akan ada yang kedua, ketiga, atau seterusnya.
Namun kuharap, penerimanya akan selalu sama.
Dengan seluruh
kekaguman, surat ini aku kirimkan. Kau cukup tersenyum dan membuatku terkagum. Kau
tak perlu menjadi pria seperti di drama-drama televisi, sesederhana itu kau
telah berhasil memikat hati. Kau berbeda dan apa adanya. Kau terlalu magis
dalam sebuah kesederhanaan.
Aku menulis
surat ini dari desakan rasa yang menyenggol ruang kepala. Kita sering
menyebutnya rindu. Entah berapa juta detik lalu, mata kita pernah beradu dan
aku merekam gambaranmu dalam retinaku. Jarak memang pendesak. Hingga kau alami
irama sesak. Itu pertanda bahwa rindu telah beranak pinak. Aku selalu menunggu
dan hanya membisu. Meski terkadang menunggu tak seinci pun menyeret kita untuk
bertemu di titik rindu. Tapi, ah, adakah yang lebih indah dari jiwa yang
menunggu? Yang tak saling menyapa, tapi diam-diam mengucap nama dalam doa?
Untuk lelaki
yang tak perlu kusebut namanya, aku hanya ingin kau tahu. Akhir-akhir ini ada
yang memiliki kebiasaan baru; aku. Memikirkanmu. Itulah pengisi waktuku. Kau tahu,
aku belum bisa terlelap sebelum pukul satu. Seluruh malam tanpa terkecuali
adalah waktu di mana kau menjadi benar-benar ada, tepat di sisi mimpiku. Segala
tentangmu menjadi sentimentil. Aku terlalu takut pada sebuah ketiadaan. Sementara
rasaku terus menebal dan semakin pikiranku berlomba untuk menyangkal
takut-takut kaulah yang nantinya tinggal dengan kekal. Aku tak terlalu peduli
apa kau juga merasakannya: rasa sakit yang mendera, rasa cemas yang tak biasa, juga
rasa takut kehilangan yang bukan sembarangan.
Sudah lebih
tiga ratus enam puluh lima hari kita bersama. Hingga hari-hari yang sedang kita
jalani akhirnya menjadi sebuah kesedihan juga. Aku sempat menyimpanmu sebagai
kebahagiaan dan aku merindukannya kembali. Senyumanmu kini berubah. Tatapanmu juga.
Debar yang kau rasa saat bertemu aku lenyap. Pelukmu tak ada artinya lagi
karena kau memelukku dengan cara yang sama seperti kau memeluk
perempuan-perempuan lain yang tak perlu aku sebutkan. Semua itu membuatku pilu.
Aku cemburu dan kau selalu begitu. Aku melihat itu semua dan berpura-pura aku
tidak mengetahuinya. Aku selalu menutupi kesedihanku karena jika kau tahu, kau
pasti membenciku. Tapi jika kau ingin menengok, sekarang hatiku penuh lebam
biru. Jika kau punya hati, semestinya tanpa aku mengemis seperti ini, kau sudah
tahu apa saja hal-hal yang seharusnya. Aku merindukan kita.
Barangkali aku
bukan kekasih yang baik. Sebagaimana hidup yang tak selalu berjalan baik. Kadang
jiwa kita tenang tenteram, kadang kita menjalani malam-malam penuh
kekhawatiran. Aku jarang mengingatkanmu makan, menanyakan harimu, memberi kejutan
di hari ulang tahun, atau bercerita tentang apa saja. Aku juga bukan perempuan
romantis yang memberi kata-kata puitis. Aku hanya bisa menuliskanmu dalam surat
ini, surat yang berisi kata-kata tak bersuara. Aku hanyalah perempuan pecinta
hujan dan penikmat senja. Perempuan dengan hati rapuh yang selalu banjir air
mata. Perempuan pagimu yang selalu ingin menerima cintamu sebelum pagi
diterbitkan. Perempuan yang membuatmu muak dengan yang ia sebut-sebut cinta.
Tidak perlu
khawatir setelah membaca surat ini, kau tidak perlu berpikir bagaimana
membalasnya. Bisa kutebak kau sudah bosan membacanya. Makilah aku, bencilah aku,
jika memang cintamu habis sudah. Maafku atas segala ucapanku yang itu-itu saja.
Yang terpenting kau baik-baik saja.
Ditulis di kota kelahiran sebelum malam tahun baru.

