Senin, 05 Mei 2014

Kepada Yang Berulang Tahun

Posted By Ainoire di 12.22 0 komentar

Kepada kau lelaki bermata teduh, rambutmu yang sudah panjang, dan kebiasaanmu tersenyum ketika berbicara. Sebelum kutuliskan puisi ini, kau pastinya tahu, bagaimana aku tak memiliki keberanian sedikit pun untuk menuliskan kebaikanmu dalam sajak-sajakku. Bahkan, kata-kata terbaik yang berseliweran dalam kepalaku, tak berdaya setiap kali kulafalkan namamu dalam puisi-puisiku. Tak apa-apa. Bagi hidupku, engkau adalah puisi yang tak pernah dapat kutuliskan dalam kata-kata, puisi yang hanya mampu kupahami dengan cinta dan doa.

Masih kuingat, setiap kali aku mulai menyusun kata-kata, kau pasti tertawa, dan aku selalu gagal menuntaskannya hingga penaku terkulai tak berdaya. Malah, seringkali kau bilang puisiku menye-menye, lebay, atau dengan istilah-istilah semacam alay. Hahaha. Tak mengapa, tak selamanya cinta menuntut dituliskan dalam kata-kata.

Mungkin engkau akan bertanya-tanya, alasan macam apa hingga akhirnya aku memberanikan diri menuliskan puisi ini untukmu. Seperti halnya aku yang selalu bertanya-tanya, kesetiaan macam apa yang Tuhan berikan kepadamu, hingga mau merawat kepedihanku.

Sebenarnya aku ingin membuat kejutan dalam ulang tahunmu. Memberimu roti ulang tahun, membelikanmu hadiah, tapi ternyata selain waktu, persediaan uangku tak cukup untuk mewujudkannya. Toh, apa yang kumiliki dalam hidupku (selain kesedihanku), adalah bagi kebahagiaanmu.

Sederhana saja alasanku. Aku ingin menuliskanmu sebuah puisi; sebuah puisi yang setiap kali kau baca tak pernah menyisakan rasa nyeri, dan sebuah puisi yang bisa mengingatkanmu bahwa aku pernah ada untuk menuliskan ini. Sesederhana itulah alasanku membuat puisi untukmu. Sesederhana kita.

Aku sengaja menulis puisi ini saat kau berulang tahun, saat sepasang lenganku bermunajat kepada Sang Pencipta, agar segala doa-doa keselamatan dan kebahagiaan tercurahkan; untuk hidupmu, untuk kebahagiaanmu.

Mungkin puisi ini tak berarti apa-apa, dibanding kado-kado dan ucapan-ucapan ulang tahun yang kau terima hari ini. Tapi bagiku ini adalah kado terbesar yang mampu kuberikan dalam hidupku; selain perasaan-perasaan dan doa-doaku, sepanjang waktu....

Menulis puisi ini untukmu, sama susahnya seperti pertama kali aku berbicara kepadamu; sangat sakral bagi hidupku, dan semoga bagi hidupmu juga.

Kau pasti mulai bosan membaca pengantar ini, dan aku belum juga menuliskanmu sebuah puisi. Aku gamang, tak percaya diri menuliskanmu dalam sajak-sajakku, dan aku harus berhati-hati sekali, agar kata-kata yang kutuliskan nanti tak melukai dan menyakiti kebahagianmu hari ini.

Tapi, baiklah, akan kutuliskan puisi ini di hari ulang tahunmu, hari kebahagiaanmu. Bacalah dengan sepenuh cintamu, bacalah dengan segenap doa-doamu.

Selamat ulang tahun! Panjang umur bahagiamu. Semoga Tuhan senantiasa memberimu anugerah. Aamiin.


Dari seorang kawan, tengah malam, 6 Mei 2014
 

Aksara dari Pena Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos